Bismillahirrahmanirrahiim - Holiday it's Over, Alhamdulillah 09 Maret 2015 kita akan memasuki semester baru, yaa... Semester Genap tentunya... Semester baru perkuliahan biasanya pasti akan memberikan sebuah semangat baru bagi mahasiswa maupun dosennya. Mata kuliah baru bagi mahasiswa akan menimbulkan rasa penasaran dan ingin segera mempelajarinya, begitu juga dengan dosennya.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Maret 2015
Selasa, 25 November 2014
Selamat Hari Guru Nasional | TERIMA KASIH GURUKU
Minggu, 23 November 2014
Tidak Sekadar Mengajar
“Pendidikan yang hebat
bukan sekadar menjadikan anak pintar, tetapi juga mampu menjadikan anak
mandiri, bergaul dengan sejajar, dan bersikap bijak dalam menghadapi masalah.”
Pintar saja tidak
cukup. Bila yang dicari pintar secara intelektual saja, anak-anak kita di masa
yang akan datang bisa jadi akan kecewa dengan banyak persoalan. Dalam kehidupan,
persoalan yang sering dihadapi bukan hanya pada soal matematis mekanistik,
tetapi juga harus ada nilai emosi dan estetik.
Jumat, 21 November 2014
Memaknai Pendidikan Islam
Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9).
Jumat, 06 Juni 2014
5 Langkah Mudah Mengatur Waktu yang Efektif
Bismillahirrahmanirrahiim...
Siapa bilang kalau mengatur waktu itu sulit? Sebenarnya tidak sulit sama sekali, hanya saja tidak mudah (lho?). Iya, karena mengatur waktu itu memerlukan latihan dan merupakan kebiasaan. Jadi, kalau kita saat ini merasa kesulitan mengatur waktu, itu memang karena kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang membuat waktu kita jadi tidak produktif. Terus, bagaimana dong caranya agar bisa mengatur waktu?
Senin, 12 Agustus 2013
Long Life Education
Long life education atau pendidikan sepanjang hayat biasa diasumsikan sebagai pendidikan yang terus menerus hingga seseorang mendapatkan gelar yang banyak di belakang namanya. Dari Sarjana sampai Profesor bahkan dari berbagai bidang ilmu. Yang demikian ini mungkin benar menunjukkan pendidikan sepanjang hayat. Tapi tentunya tidak semua orang bisa mencapainya.
Dalam pengertian lebih luas, long life education tidak menuntut adanya lembaga pendidikan. Rasulullah pun memerintahkan umatnya untuk menimba ilmu sampai akhir hayat. Sehingga mencari ilmu tidaklah harus dari bangku pendidikan saja. Keluarga dan masyarakat adalah sarana pendidikan yang paling mendasar. Dalam keluarga, disadari atau tidak, orang tua secara perlahan menanamkan dasar-dasar kepribadian anak. Semua pengalaman interaksi anak dengan orang tuanya direkam dalam otak kecil anak yang akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa. Bila orang tua memperlakukan anak secara positif, maka anak akan memiliki kepribadian yang positif juga. Sebaliknya, bila perlakuan orang tua negatif, maka anak akan sulit menemukan jati dirinya dan memiliki citra diri yang negatif pula. Memasuki lingkungan masyarakat, seorang anak akan mulai mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Setelah dewasa, seorang manusia akan melakukan interaksi yang lebih luas dalam masyarakat. Maka semakin banyak hal yang dipelajari yang dapat mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang orang tersebut. Setiap peristiwa dan kejadian yang dialami adalah sumber belajar bagi orang-orang yang mampu dan mau mengambil pelajaran.
Kesimpulannya, marilah kita jadikan setiap pengalaman menjadi sebuah pelajaran positif yang membuat kita beranjak dan meningkatkan kualitas diri kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sungguh rugi orang yang melewati banyak hal tanpa mengambil pelajaran darinya. Peristiwa apapun, baik atau buruk, menyenangkan atau menyakitkan, pasti ada hikmah dibaliknya. Tak kan pernah ada alasan bagi kita untuk berhenti mensyukuri semua anugerah Allah yang begitu besar ini yang bahkan kadang kita tak menyadarinya. Alhamdulillah.
Mengenai keberlangsungan proses pendidikan, al-Ghazali menerangkan bahwa batas awal berlangsungnya pendidikan adalah sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Adapun mengenai batas akhir pendidikan adalah tidak ada karena selama hayatnya manusia dituntut untuk melibatkan diri dalam pendidikan sehingga menjadi insan kamil. Ditambahkan pula bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai satu-satunya jalan untuk menyebarluaskan keutamaan, mengangkat harkat dan martabat manusia, dan menanamkan nilai kemanusiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada sejauhmana keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Selain itu, pengajaran dan pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan perkembangan psikis dan fisik anak.
Dari berbagai hadist yang dikutip oleh al-Ghazali dalam bukunya dan juga beberapa pernyataannya tentang pendidikan dan pengajaran, dapat dirumuskan sebuah pengertian tentang pendidikan oleh al-Ghazali yaitu “proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna”.
Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna. Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral. [sumber: http://randhard.wordpress.com]
Belajar tidak mengenal waktu selama kita masih hidup maka wajib bagi kita untuk tetap selalu belajar.Semangat!!!.
Senin, 27 Mei 2013
Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak
“Orang mungkin tidak mengetahui tujuan kehidupannya, tetapi ia harus tahu cara menjalani kehidupan”
Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar.
Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan
teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus
berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke
dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut.
Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan
kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau
kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu
sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan
jatuh.
Melihat siswa tersebut, saya sarankan
pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung
di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia
sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.
Seperti yang kita ketahui, manusia
sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya
daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu
apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik
beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa
(afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si
anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya
katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu
menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah
dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama
dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi
dirinya.
Bukankah sudah menjadi kebutuhan
mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan
bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari
banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk
mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi
sosial.
Dulu, orang tua
memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang
tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon
jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya
muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni
kecerdasan emosional.
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif
(pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun
kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting
peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas
dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.
Terkadang, karakter diri seseorang
terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun
tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang
tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya
buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik,
namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ
dan EQ nya.
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada
akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson
Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa
menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya.
Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi
kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan
karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang
menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan
seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya,
sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.
Membangun Kekuatan Karakter
Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam Pembentukan Karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses
kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita,
yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih
obsesi dan menyelesaikan masalah.
Sebenarnya masing-masing dari kita
memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan
kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang
membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat,
si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak
suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter.
Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik
pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkngan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai - nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai - nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.
Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah,
namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan
menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang
diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap
sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan,
tekun dan semangat
mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan
tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karkter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.
Lalu bagaimana cara membangun kekuatan
karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika
ada dukungan dan dorongan dari lingkungan
sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau
sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan
berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan
karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau
spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.
Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas
Mendidik karakter adalah bahasan unik,
mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita
membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan
yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak
kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.
Manusia adalah faktor penting dalam
menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu
dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?
Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai
contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta,
bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta
lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari
sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak,
ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan
dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang,
tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.
Jelas lebih padat aktifitas transportasi
di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas
ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu
samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan
teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?
Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini.
Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa.
Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.
Indonesia memiliki nenek moyang yang
ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan
kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai
itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak
beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka
masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan
yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya.
Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing
skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012.
Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya
termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak
tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang
masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak.
Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut,
bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya
dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang
kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya
yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian”
merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup
berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli
Australia seperti itu, tanpa pamrih.
Seandainya kita bisa berlaku seperti
negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga
akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram”
sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara
tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan
konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak
lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya
belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan,
tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.
Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.
Selasa, 16 April 2013
UN 2013 Amburadul, Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab???
UN bukan sesuatu yang mendadak. Kegiatan ini sudah
terencana berbulan-bulan sebelumnya. Jadi, kalau gagal atau tertunda,
maka menunjukkan betapa buruknya manajemen persiapan UN yang dilakukan
Kementerian Dikbud.
-- Hermawi Taslim--
Ujian Nasional biasa disingkat UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh pusat penilaian pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang - undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk Akuntabilitas
penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih
lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik ntuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses
pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Namun, Pada saat ini kita bisa melihat penyelenggaraan UN itu sendiri tidak terlaksana dengan baik, alias Amburadul. dimana begitu banyaknya kekacauan dan kekeliruan yang terjadi di seluruh penjuru Indonesia. baik itu tidak sampainya Naskah Soal, Tidak lengkapnya lembar soal dan lembar jawaban serta ditundanya pelaksanaan UN Di 11 Provinsi di Indonesia. Kasus ini bukan hanya menunjukkan kebobrokan
manajemen ujian nasional yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Namun juga memperparah tingkat stres dari siswa dan guru
dalam menyiapkan ujian nasional. para siswa dan guru telah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi Ujian Nasional jauh- jauh hari, namun sekarang mereka harus kecewa mendengar kabar bahwa UN di tunda.
Bagaimana pendidikan indonesia mau maju, sementara sistem management nya saja tidak beres.
Jumat, 26 Oktober 2012
Enjoy Jalani Jabatan WAPRESMA
Mencari ilmu dan wawasan, dinilai tak cukup mengikuti bangku kuliah formal. Sebab bisa digali lebih dalam lewat berbagai kegiatan organisasi di kampus. Untuk itu tika kini aktif di organisasi kampusnya sebagai wakil presiden mahasiswa (wapresma) Universitas Muhammadiyah Riau.
"Sebagai seorang mahasiswa, tidak cukup apabila hanya menimba ilmu dari perkuliahan di dalam kelas. Mahasiswa harus memiliki keterampilan soft skill, dan itu bisa didapat dengan berorganisasi," ucapnya saat berbincang bersama tribun dalam satu kali kesempatan.
Mahasiswi yang punya IPK 3,75 ini juga menyebutkan, pembelajaran hidup sebenarnya tidak hanya didapat dari dunia akademik saja. Melainkan dari kegiatan-kegiatan sosial jauh lebih banyak memberi pengalaman dan pelajaran yang berharga. "Saya tak mau menjadi mahasiswa yang hanya mengejar gelar sarjana dan nilai IPK yang tinggi saja," ucapnya.
Menurutnya dengan berorganisasi, menjadi lebih dewasa dalam menentukan pilihan dan mencari jati diri. Sebab setiap keputusan yang diambil, harus melalui musyawarah terlebih dahulu. Di dalam organisasi, ia juga mengaku dapat melatih jiwa kepemimpinan.
Selama berorganisasi, banyak dilatih mengontrol ego. Namun tetap dibebaskan dalam menyampaikan gagasan. Kemudian di organisasi juga juga mendapat lebih banyak pengalaman dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. "Saya jadi lebih terbiasa berbicara, bekerjasama, melatih team work, dan banyak mengenal teman. Bukan hanya teman dari jurusan tapi juga dari kampus lain." tambahnya.
Sebagian besar mahasiswa enggan bernegosiasi karena takut kegiatan perkuliahannya terganggu. Namun, dia dapat membuktikan kalau ia mampu berprestasi meski menjadi aktivis di kampusnya. Buktinya, selain sibuk berorganisasi ia juga menjadi asisten dosen.
Ia mengaku sudah terbiasa berorganisasi sejak duduk di bangku SMK. Oleh sebab itu, ia tidak merasa kesulitan membagi waktu belajarnya dengan kegiatan organisasi. Ia sudah terlatih untuk menyeimbangkan keduanya, antara kuliah dan organisasi. (rbp/tribunpekanbaru)
Kamis, 04 Oktober 2012
Manfaat Media Pembelajaran dalam Pendidikan di Sekolah
Secara
umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara
guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan
efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan
bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat
dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi
diantara siswa dimanapun berada.
Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media
dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna,
baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk
menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak
membosankan.
Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komunikasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah
.
Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan
media pembelajaran tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara
maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus
menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali
sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media
pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih
mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru
saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan
kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui
media pemahaman siswa akan lebih baik.
Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media
pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat
melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun
tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di
sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan
sekolah.
Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
SEMOGA BERMANFAAT :)
***SUMBER***
(http://www.batararayamedia.com/page.php?menu=artikel&id=43&title=manfaat-media-pembelajaran-dalam-pendidikan-di-sekolah-) Selasa, 25 September 2012
Peranan TIK dalam Bidang Pendidikan
Terdapat 6 peranan TIK dalam bidang pendidikan, antara lain :
1. TIK sebagai skill dan kompetensi
- Penggunaan TIK harus proporsional maksudnya TIK bisa masuk ke semua lapisan masyarakat tapi sesuainya dengan porsinya masing-masing.
2. TIK sebagai infratruktur pembelajaran
- Tersedianya bahan ajar dalam format digital
- The network is the school
- belajar dimana saja dan kapan saja
3. TIK sebagai sumber bahan belajar
- Ilmu berkembang dengan cepat
- Guru-guru hebat tersebar di seluruh penjuru dunia
- Buku dan bahan ajar diperbaharui secara kontinyu
- Inovasi memerlukan kerjasama pemikiran
- Tanpa teknologi, pembelajaran yang up-to-date membutuhkan waktu yang lama
4. TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran
- Penyampaian pengetahuan mempertimbangkan konteks dunia nyata
- Memberikan ilustrasi berbagai fenomena ilmu pengetahuan untuk mempercepat penyerapan bahan ajar
- Pelajar melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih luas dan mandiri
- Akuisisi pengetahuan berasal dari interaksi mahasiswa dan guru
- Rasio antara pengajar dan peserta didik sehingga menentukan proses pemberian fasilitas
5. TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran
- Tiap individu memerlukan dukungan pembelajaran tanpa henti tiap harinya
- Transaksi dan interaksi interaktif antar stakeholder memerlukan pengelolaan back office yang kuat
- Kualitas layanan pada pengeekan administrasi ditingkatkan secara bertahap
- Orang merupakan sumber daya yang bernilai
6. TIK sebagai sistem pendukung keputusan
- Tiap individu memiliki karakter dan bakat masing-masing dalam pembelajaran
- Guru meningkatkan kompetensinya pada berbagai bidang ilmu
- Profil institusi pendidikan diketahui oleh pemerintah.
SEMOGA BERMANFAAT :)
***SUMBER***
( kuliah kapita selekta pendidikan ilmu komputer bersama Dr. Wawan Setiawan, M.Kom)
Rabu, 06 Juni 2012
Pengertian Media Pengajaran
Pengertian /definisi Media Pengajaran.
Di dalam dunia pendidikan kita kenal berbagai istilah peragaan atau
keperagaan. Ada yang lebih senang menggunakan istilah komunikasi
peragaan. Dewasa ini telah mulai dipopulerkan istilah baru yakni "Media Pengajaran".
Sedangkan dalam kepustakaan asing ada sementara ahli yang menggunakan
istilah Audio-Visual Aids. Untuk pengertian yang sama, banyak pula ahli
yang menggunakan istilah Teaching material atau Instructional material.
Oleh karena beragamnya istilah tersebut, yang mempunyai tekanannya
sendiri-sendiri, maka akan lebih baik jika kita mengambil salah satu
diantaranya, dalam hal ini "Media Pengajaran". Yang bertujuan
mengarahkan semua proses pendidikan dan pengajaran, kegiatan pendidikan
dapat diarahkan kepada pembentukan manusia yang diharapkan oleh
masyarakat.
Secara
praktis proses pencapaian tujuan itu melalui suatu pengajaran yang
direncanakan oleh sekolah. Atau dengan kata lain sekolah menyediakan
suatu lingkungan yang sesuai dengan usaha pencapaian tujuan pendidikan
yang diharapkan oleh masyarakat umum sesuai dengan kebutuhan: dan
cita-cita masyarakat itu. Tujuan khusus adalah tujuan yang merupakan
penjabaran secara terperinci dari tujuan umum. Tujuan guru adalah tujuan
yang diharapkan oleh guru, yakni perubahan dalam berbagai aspek tingkah
laku siswa. Sedangkan tujuan siswa adalah tujuan yang berdasarkan pada
keinginan dan minat siswa.
Untuk dapat lebih mudah memahami uraian Pengertian Media Pengajaran selanjutnya,
berikut ini diberikan beberapa pengertian tentang media. Kata "Media"
berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata "Medium"
yang berarti perantara atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Banyak batasan yang
diberikan dari orang tentang media media tidak hanya digunakan oleh guru
tetapi lebih penting lagi digunakan oleh siswa. Karena sebagai penyaji
dan penyalur pesan, dalam hal tertentu media dapat menyampaikan
informasi secara. lebih teliti jelas dan menarik.
Menurut Soendjojo mengatakan Pengertian Media Pengajaran “Media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide
sehingga gagasan itu sampai pada penerima”. Sedangkan menurut Sadiman
mengatakan "Media adalah segala alat fisik yang dapat menyatakan pesan
serta perangsang siswa untuk belajar". Hakekat pemilikan dan penggunaan
media adalah keputusan untuk memahami, tidak memakai atau
mengadaptasikan media terhadap siswa, tidak sekedar memakai media,
tetapi harus memilih kriteria dan menggunakan media salah satu dasar
pertimbangan pemilihan dan penggunaan media adalah ingin memberikan
gambaran / penjelasan yang lebih kongkrit. Disamping hal tersebut di
atas masih ada beberapa faktor yang perlu juga diperhatikan antara lain
tujuan instruksional yang hendak dicapai, karakteristik siswa (sasaran,
jenis rangsangan belajar yang diinginkan) dalam hubungan dengan kriteria
pemilihan dan penggunaan media menurut pandangan Sadiman (1986 85)
mengatakan “Pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari pokok
permasalahan bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional
secara keseluruhan” Dengan demikian jelas, bahwa pemilihan dan
penggunaan media sebaiknya tidak terlepas dari tujuan utamanya, yaitu
bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional karena itu
meskipun tujuan dari isinya sudah dikaitkan tetapi faktor-faktor
karakteristik siswa strategi belajar mengajar alokasi waktu dari sumber
perlu sekali dipertimbangkan. Jika dilihat dari pendapat di atas
jelaslah penggunaan media dalam proses belajar mengajar dilakukan secara
baik serta optimal akan membawa dampak positif terhadap guru dan siswa.
Baik demikian artikel mengenai Pengertian Media Pengajaran mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca!!
***SUMBER***
(http://hipni.blogspot.com/2011/10/pengertian-media-pengajaran.html)
Sabtu, 19 Mei 2012
Kontribusi Psikologi terhadap Dunia Pendidikan
Kontribusi Psikologi terhadap Dunia Pendidikan. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang
psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori
dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap
pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran
dan sistem penilaian.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan
kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku
dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang
mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian
terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan
tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian,
kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan
keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat
kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta
karakterisktik-karakteristik individu lainnya.
Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap
individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik
dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang
dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya
menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan
berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan
seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
2.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian
psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem
pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti :
teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt,
teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari
kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada
kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan
dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1. Agar seorang benar-benar belajar, ia
harus mempunyai suatu tujuan
2. Tujuan itu harus timbul dari atau
berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang
lain.
3. Orang itu harus bersedia mengalami
bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang
berharga baginya.
4.
Belajar itu harus terbukti dari
perubahan kelakuannya.
5.
Selain tujuan pokok yang hendak
dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6.
Belajar lebih berhasil dengan jalan
berbuat atau melakukan.
7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan,
tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis
dan sebagainya.
8. Seseorang memerlukan bantuan dan
bimbingan dari orang lain.
9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa
yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal
fakta lepas secara verbalistis.
10. Disamping mengejar tujuan belajar yang
sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11.
Belajar lebih berhasil, apabila usaha
itu memberi sukses yang menyenangkan.
12.
Ulangan dan latihan perlu akan tetapi
harus didahului oleh pemahaman.
13.
Belajar hanya mungkin kalau ada
kemauan dan hasrat untuk belajar.
3.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain
pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami
seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita
dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik
setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam
pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama
setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat
kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes
psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang
individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes
(DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Semoga Bermanfaat :)
***SUMBER***
(http://www.artikelbagus.com/2011/11/kontribusi-psikologi-terhadap-dunia.html)
Langganan:
Postingan (Atom)
+++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++
Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!!
Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan untuk Membangun Blog iNi.::



.jpg)







