Jumat, 31 Mei 2013
Kamis, 30 Mei 2013
Sahabat Sejati (UNIC)
Ku biar kalam berbicara
Menghurai maksudnya di jiwa
Agar mudah ku mengerti
Segala yang terjadi
Sudah suratan Ilahi
Ku biarkan pena menulis
Meluahkan hasrat di hati
Moga terubat segala
Keresahan di jiwa
Tak pernah ku ingini
Aku telah pun sedaya
Tak melukai hatimu
Mungkin sudah suratan hidupku
Kasih yang lama terjalin
Berderai bagaikan kaca
Oh teman, maafkanlah diriku
C/O :
Oh Tuhan
Tunjukkan ku jalan
Untuk menempuhi dugaan ini
Teman, maafkan jika ku melukaimu
Moga ikatan ukhwah yang dibina
Ke akhirnya
Aku tidak kan berdaya
Menahan hibanya rasa
Kau pergi meninggalkan diriku
Redhalah apa terjadi
Usahlah kau kesali
Mungkin ada rahmat yang tersembunyi
"Salam Ukhuwah Wahai Sahabat Ku"
Rabu, 29 Mei 2013
Diam Itu EMAS!
Diam itu bukan berarti tidak mengerti,
Diam itu bukan berarti tak peduli,
Diam itu bukan berarti tak peduli,
Diam itu penutup segala kebodohan,
Diam itu perhiasan tanpa berhias,
Diam itu kehebatan tanpa kerajaan,
Diam itu benteng tanpa pagar,
Diam itu penutup segala aib,
Diam itu ibadah yang tanpa bersusah payah
Diam itu perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah,
Diam itu kekayaan tanpa meminta kepada orang,
Diam itu istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal.
Diam itu perhiasan tanpa berhias,
Diam itu kehebatan tanpa kerajaan,
Diam itu benteng tanpa pagar,
Diam itu penutup segala aib,
Diam itu ibadah yang tanpa bersusah payah
Diam itu perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah,
Diam itu kekayaan tanpa meminta kepada orang,
Diam itu istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal.
Tapi …
Jangan diam saat orang bekerja
Jangan diam saat kejujuran dikoyak
Jangan diam saat keburukan ada didepanmu
Jangan diam saat hatimu pilu, berdzikirlah supaya hatimu tenang
Jangan diam saat harus bicara
Jangan diam saat ditanya, meski jawabnya ‘tidak tahu’
Jangan diam saat imam selesai membaca Al-Fatihah.. bacalah Amin..
Jangan diam saat Engkau berdoa
Jangan diam saat kejujuran dikoyak
Jangan diam saat keburukan ada didepanmu
Jangan diam saat hatimu pilu, berdzikirlah supaya hatimu tenang
Jangan diam saat harus bicara
Jangan diam saat ditanya, meski jawabnya ‘tidak tahu’
Jangan diam saat imam selesai membaca Al-Fatihah.. bacalah Amin..
Jangan diam saat Engkau berdoa
Diam yang baik itu…
Diam sedang menyerap ilmu,
Diam ingin mencari makna,
Diam sedang merajut asa,
Diam sedang memperhatikan,
Diam karena ilmu nya orang tua,
Diam karena mendengarkan,
Diam sedang menahan ghibah dan dusta,
Diam sedang menahan amarah,
Diam sedang berpikir,
Diam sedang berdoa dalam hati,
Diam sedang mencari solusi.
Diam sedang menyembunyikan keikhlasan,
Diam sedang menyerap ilmu,
Diam ingin mencari makna,
Diam sedang merajut asa,
Diam sedang memperhatikan,
Diam karena ilmu nya orang tua,
Diam karena mendengarkan,
Diam sedang menahan ghibah dan dusta,
Diam sedang menahan amarah,
Diam sedang berpikir,
Diam sedang berdoa dalam hati,
Diam sedang mencari solusi.
Diam sedang menyembunyikan keikhlasan,
Sungguh lidah memang tak bertulang, setiap gerakannya akan
menggetarkan pita suara, dan suara yang keluar jika tak bernilai
kebaikan sebaiknya diam, dan mustinya harus selalu diingat bahwa setiap
gerakan lidah akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH di peradilan
ALLAH nanti.
Iya lidah dan ucapan akan dihisab, bicara apa dan berkata apa. Di
peradilan ALLAH tidak ada pengacara yang akan membela. Di sana lidah
hanya akan berkata jujur tentang semua yang pernah diucapkannya, dan
betullah seharusnya kita DIAM ketika tidak bisa berkata benar.
“Kalau dihina ?” gak usah dibalas dengan hinaan. rugi mengotori lidah
dengan menghina orang itu lagi. Ketika ada orang yang menghina,
sesungguhnya orang itu sedang menghina dirinya sendiri. Ketika membalas
dengan hinaan, apa bedanya dengan dia. Jangan.. jangan.. pahala dan
energi bisa habis hanya untuk membalas sesuatu yang gak penting lagi
buat kita bukan? biarkan saja… sudahi dengan DIAM dan senyum manis.
Berhati-hatilah, karena lidah lebih tajam dari pedang (pesan sayyidina Umar bin Khottob).
Kata orang ”Setan itu mencari sahabat sahabatnya dan ALLAH melindungi
kekasih kekasihNYA” salah satu agar dicintai ALLAH dan menjadi kekasih
ALLAH adalah dengan menjadi ahli dzikir dan sifat dari para ahli dzikir
itu “diamnya dzikir, bicaranya dakwah” …
==========
==========
Firman-ALLAH, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika dua malaikat mencatat
amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk
di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat yang selalu hadir.“ (QS Qaf: 16-18).
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (Riwayat BUKHARI & MUSLIM)
”Barangsiapa diam maka ia terlepas dari bahaya”.(Riwayat AT-TARMIZI)
“Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR Ibnu Mubarak).
====
Sahabat, doakan saya (pengurus web ini), ibunda saya dan keluarga saya ya.. . Agar diberikan kesehatan, mudah dalam segala urusan, serta terkabul segala hajat dan keinginan (saat ini saya ingin berumroh dan renovasi rumah). Semoga putra saya menjadi khafidz. Saya doakan agar sahabat pun mendapatkan apa yang sahabat doakan untuk saya dan keluarga. Al Faatihah..
Sahabat, doakan saya (pengurus web ini), ibunda saya dan keluarga saya ya.. . Agar diberikan kesehatan, mudah dalam segala urusan, serta terkabul segala hajat dan keinginan (saat ini saya ingin berumroh dan renovasi rumah). Semoga putra saya menjadi khafidz. Saya doakan agar sahabat pun mendapatkan apa yang sahabat doakan untuk saya dan keluarga. Al Faatihah..
semoga Allah merahmati mereka para penyebar ilmu dimana saja berada. Amin…
UJIAN adalah TARBIYAH Dari ALLAH
- KENAPA AKU DIUJI?
- KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
- KENAPA SUSAH SANGAT UJIAN INI?
- RASA FRUST? TENSION? LEMAH SEMANGAT?
- BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
- APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
- KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
- ARGHHH AKU TAK TAHAN!!! AKU DAH BOSAN!!
“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui org2 yg dusta.” -Surah Al-Ankabut ayat 2-3
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” -Surah Al-Baqarah ayat 216
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” -Surah Al-Baqarah ayat 286
“Janganlah Kamu Bersikap Lemah,
dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg
paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yg beriman.” - Surah
Al-Imran ayat 139
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala
kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan
kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan
perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-
daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu
berjaya (mencapai kemenangan).” -Surah Al-Imran ayat 200
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan
mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat
kecuali kepada orang - orang yang khusyuk” -Surah Al-Baqarah ayat 45
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri, harta
mereka dengan memberikan syurga untuk mereka… -Surah At-Taubah ayat 111
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.” -Surah At-Taubah ayat 129
“… .. dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” - Surah
Yusuf ayat 12
Senin, 27 Mei 2013
Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak
“Orang mungkin tidak mengetahui tujuan kehidupannya, tetapi ia harus tahu cara menjalani kehidupan”
Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar.
Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan
teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus
berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke
dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut.
Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan
kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau
kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu
sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan
jatuh.
Melihat siswa tersebut, saya sarankan
pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung
di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia
sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.
Seperti yang kita ketahui, manusia
sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya
daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu
apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik
beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa
(afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si
anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya
katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu
menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah
dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama
dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi
dirinya.
Bukankah sudah menjadi kebutuhan
mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan
bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari
banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk
mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi
sosial.
Dulu, orang tua
memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang
tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon
jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya
muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni
kecerdasan emosional.
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif
(pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun
kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting
peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas
dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.
Terkadang, karakter diri seseorang
terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun
tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang
tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya
buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik,
namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ
dan EQ nya.
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada
akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson
Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa
menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya.
Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi
kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan
karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang
menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan
seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya,
sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.
Membangun Kekuatan Karakter
Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam Pembentukan Karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses
kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita,
yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih
obsesi dan menyelesaikan masalah.
Sebenarnya masing-masing dari kita
memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan
kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang
membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat,
si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak
suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter.
Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik
pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkngan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai - nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai - nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.
Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah,
namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan
menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang
diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap
sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan,
tekun dan semangat
mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan
tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karkter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.
Lalu bagaimana cara membangun kekuatan
karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika
ada dukungan dan dorongan dari lingkungan
sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau
sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan
berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan
karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau
spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.
Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas
Mendidik karakter adalah bahasan unik,
mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita
membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan
yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak
kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.
Manusia adalah faktor penting dalam
menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu
dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?
Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai
contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta,
bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta
lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari
sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak,
ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan
dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang,
tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.
Jelas lebih padat aktifitas transportasi
di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas
ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu
samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan
teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?
Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini.
Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa.
Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.
Indonesia memiliki nenek moyang yang
ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan
kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai
itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak
beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka
masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan
yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya.
Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing
skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012.
Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya
termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak
tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang
masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak.
Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut,
bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya
dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang
kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya
yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian”
merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup
berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli
Australia seperti itu, tanpa pamrih.
Seandainya kita bisa berlaku seperti
negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga
akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram”
sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara
tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan
konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak
lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya
belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan,
tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.
Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
+++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++
Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!!
Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan untuk Membangun Blog iNi.::


