Jumat, 19 Juli 2013

Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri?


Para ulama juga berbeda pendapat apakah seharusnya shalat tarawih dilaksanakan dengan berjamaah atau sendiri-sendiri di malam Ramadhan maka para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:
Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama Syafi’iyyah dan sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya berpendapat bahwa: Shalat tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah, alasannya :
1. Mengikuti perintah Umar bin Khatab ra. sebagaimana hadits-hadits yang sudah diriwayatkan terdahulu.
2. Melaksanakan amalan para sahabat Nabi saw.
3. Melestarikan amalan kaum muslimin Timur dan Barat.
4. Karena termasuk perbuatan mensyi’arkan Islam, sebagaimana halnya shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Malahan berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Imam at-Thahawi berpendapat berjamaah dalam shalat tarawih hukumnya Wajib Kifayah
Namun Imam Malik Abu Yusuf dan sebagian kecil pengikut Syafi’iyyah berpendapat bahwa shalat berjamaah Tarawih hukumnya “lebih utama dilaksanakan sendiri tanpa berjamaah” Alasannya:
1) Sabda Nabi Muhammad saw.
عن يسر بن سعيد ان زيد بن ثابت قال: افضل الصلاة صلاتكم في بيوتكم الاصلاة المكتوبة.    رواه الترمذى

Artinya: hadits riwayat dari Yusrin bin Said bahwasanya Zaid bin Tsabit berkata: “Paling utama-utamanya shalat adalah shalat kalian dikerjakan dirumah kecuali shalat fardlu”.
Pengikut Imam Malik, bertanya kepadanya: Bagaimana Imam Malik melakukan Qiyamul lail di Bulan Ramadhan lebih disukai yang mana berjamaah dengan orang banyak atau dilaksanakan sendiri di rumah?
Imam Malik menjawab: kalau dilaksanakan sendiri di rumah itu kuat dan lama. Saya lebih suka. Tetapi kebanyakan kaum muslimin tidak kuat dan malas melaksanakan shalat sendiri di rumah
Imam Turmudzi dan Imam Rabi’ah melaksanakannya sendiri di rumah begitu juga ulama-ulama lain. Sementara Imam Malik lebih suka dan lebih senang melakukan shalat sunnat sendiri di rumah.

Semoga Bermanfaat :)



Bersegeralah Menuju Surga



Ilustrasi Ibadah Bulan Ramadhan (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Allah dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, yang hanya diberikan kepada orang-orang bertaqwa” ~ QS Ali Imran: 133.

Dalam kitab sirah Nabawiyah, dikisahkan bahwa disuatu malam Ju'mat, seorang pemuda Madinah, yang ahli memanah bernama Hanzhalah menikah dengan seorang gadis Jamilah.

Merekapun mengadakan walimahtu ‘ursy, perhelatan, yang juga dihadiri oleh Rasulullah saw. beserta sahabat-sahabat yang lain.

Selanjutnya sebagaimana kebiasaan pengantin baru, setelah para tamu pulang, maka kedua mempelaipun masuk ke dalam rumah dan tentunya menikmati malam pertama mereka berdua.

Pada Jum’at paginya menjelang waktu Subuh, tiba-tiba rumah Hanzhalah diketuk oleh seorang sahabat yang membawa pesan bahwa Hanzhalah diminta segera menghadap Rasulullah saw.

Entah apa yang dilihat oleh Rasulullah saw, saat bertemu dengan Hanzhalah, sampai Nabi saw bertanya, “Apakah aku membuat engkau terburu-buru ya Hanzhalah". "Tidak ya Rasulullah", Jawab Hanzhalah.

"Kalau begitu, engkau kuperintahkan sekarang untuk membawa perlengkapan perangmu, berangkatlah, karena musuh sudah mendekati batas kota Madinah," kata Nabi saw.

"Labbaik, siap Ya Rasulullah", jawab Hanzhalah tanpa banyak tanya, karena sebagaimana ahli memanah, dia sudah memahami tugas-tugasnya.

Kemudian berlakulah takdir, ketentuan Allah swt atas Hanzhalah, dia syahid dalam peperangan itu.

Rasulullah saw sangat sedih mendengar kematian salah seorang ahli memanahnya. Namun kepada Nabi saw, Allah swt memperlihatkan suatu pemandangan luar biasa tentang Hanzholah yang kemudian diceritakan kepada isterinya Jamilah.

"Wahai Jamilah, aku diperlihatkan Allah swt, bahwa Hanzhalah tengah dimandikan oleh para malaikat di sebuah bejana yang terbuat dari emas. Ada apa dengan suamimu ya Jamilah?", ucap Rasulullah saw.

Sambil tersipu malu, Jamilah mengungkapkan, "Tadi waktu engkau suruh berangkat berjihad, Hanzhalah belum sempat mandi (junub) Ya Rasulullah".

Subhaanallah, kisah Hanzhalah yang kerap terngiang dalam ingatan. Karena sebenarnya, tidaklah makan waktu lama bagi seorang suami untuk menuntaskan keinginan biologisnya kepada sang isteri. Namun hal itu ditinggalkannya demi bersegera meraih ridho Allah swt dan Surga-Nya.

Bulan Ramadhan melatih kita untuk bersegera menuju syurga Allah swt. Bersegera berbuka saat adzan Maghrib tiba. Bersegera ke masjid saat menjelang waktu shalat. 

Bersegera mengkhatamkan Al-Qur’an. Bersegera membayarkan zakat fithrah dsb. Dan semua kesegeraan ini, insya Allah, akan mengantarkan kita ke surga, "jannatu naiim".


Siapa suka minuman serbat
Tentu  jahe  bikin hangatnya
Siapa suka  lalaikan  shalat
Tentu neraka wail tempatnya



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara


Kamis, 18 Juli 2013

Efek Jauh dari Al-Qur'an



Al Quran (Flickr )
“Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu (Al-Qur’an), maka baginya rezeki yang sempit. Dan di hari kiamat dia akan didatangkan dalam keadaan buta” QS Thaha: 124.

Al-Qur’an adalah pegangan hidup setiap muslim, petunjuk jalan agar tidak tersesat dalam mengarungi bahtera kehidupan. Jika kita mempedomaninya, tentu akan diberkahi penuh keselamatan. Dan jika kita berpaling darinya, maka tentu akan ditimpa oleh berbagai bencana.

Hal ini sudah merupakan ketetapan Allah swt: “Sungguh telah berlaku sunnah (ketentuan) Allah, atas orang-orang sebelum kalian, maka berjalanlah kalian di muka bumi ini- dan saksikanlah- bagaimana akibat yang menimpa orang-orang yang mendustakannya (mengingkari Al-Qur’an)”.

Bencana-bencana yang akan datang jika jauh dari Al-Qur’an:

Pertama, bencana Moral; Apabila seseorang tidak berpedoman kepada kitabullah Al-Qur’an, maka tentu dia akan mengikuti hawa nafsunya. Dan apabila banyak orang yang berlaku demikian, maka tentu akan terjadi bencana moral di masyarakat. Karena moral seorang muslim tentu dibentuk atas dasar petunjuk dari Al-Qur’an.

Kedua, bencana Fisik; hal ini diungkapkan Allah swt dalam surat Al-A’raaf ayat 96: “Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka akibat kedustaan mereka”. Kepada kaum-kaum penentang sebelumnya, Allah swt telah menurunkan azab, gelombang seperti tsunami terhadap kaum nabi Nuh as., hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth as karena menganut homo seks, Fir’aun yang ditenggelamkan karena menentang Musa as, dan tentunya tengoklah apa yang menimpa para penentang Nabi Muhammad saw, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Musailamah Alkadzzab dll.

Ketiga, bencana Ekonomi; kata ma’isyatan dhanka dalam surat Thaha : 124 diatas bermakna mata pencaharian yang sempit. Rezeki akan susah, tekanan ekonomi semakin berat, lantaran mereka jauh dari Al-Qur’an.

Keempat, bencana Sosial; Manakala kaum muslimin jauh dari Al-Qur’an, tentu hubungan ukhuwwah sesama muslim tidak akan baik. Hubungan dengan tetangga, hubungan-hubungan sosial akan rusak. Hal ini merupakan bibit-bibit perpecahan ummat bahkan perpecahan bangsa. Jika ini terjadi, tentu merupakan bencana sosial bagi kita semua.

Kelima, bencana Keimanan; Kerusakan iman kaum muslimin akan menjadi sasaran akhir jauhnya mereka dari pedoman hidup Al-Qur’an. Karena tidak faham Al-Qur’an, sehingga mereka tidak mengerti: mengapa harus mengerjakan sholat, mengapa harus puasa, mengapa harus zakat, haji dst. Lama-lama tentu keimanannya akan tergerus dan mulai bertanya, mengapa kita harus beriman?. Nau’dzubillahi min dzalik.


Mendengar suara elang bernyanyi
Membuat cemas si induk ayam
Mendengar suara orang mengaji
Membuat hati merasa tenteram.






Rabu, 17 Juli 2013

Kisah Ahli Ibadah


"Mendekatkan dirilah kalian kepada Allah dan luruslah dalam beramal, ketahuilah bahwa seseorang tidak akan selamat (masuk surga) hanya dengan amal-amalnya saja" ~ HR. Bukharie & Muslim.

Mendengar ucapan Nabi saw itu, seorang sahabat bertanya, "Engkau juga tidak bisa masuk surga hanya dengan amal-amalmu ya Rasulullah?".

Rasul menjawab, "Saya juga tidak, kecuali Allah swt memberikan rahmat (kasih sayang)Nya dan karuniaNya".

Dikisahkan ketika salah seorang abid (ahli ibadah) meninggal dunia, kemudian ruhnya dipanggil oleh Allah swt, lalu dikatakan padanya, :"Masuklah ke dalam surgaKu dengan rahmatKu".

Sang Abid, karena telah beribadah sepanjang hayatnya, merasa amalnya sangat banyak, lalu berkata kepada Allah, "Ya Allah (aku masuk surga) dengan amal-amalku”.

Allah swt berkata, "Dengan rahmatKu".

Dijawab lagi oleh sang Abid, "Dengan amalku Ya Allah".

Lalu Allah swt berkata, "Baik, sekarang mari kita timbang, antara amal-amalmu dengan rahmatKu".

Maka dihitunglah seluruh amal sang Abid, lalu diletakkan di satu bagian dari timbangan. Dan memang amal Abid ini sangatlah banyak, maklum, hampir sepanjang hidup kerjanya hanyalah beribadah.

Kemudian Allah swt memerintahkan untuk menghitung rahmat dan nikmat mata yang telah dirasakan oleh sang Abid seumur hidupnya di dunia, lalu diletakkan di bagian timbangan satu lagi.

Ketika dihitung, ternyata dengan menghitung rahmat mata saja, maka jumlah nikmat Allah swt sudah mengalahkan berat seluruh amal sang Abid selama hidupnya. Belum lagi dihitung berapa nikmat hidung, nikmat lidah, nikmat sehat, nikmat makan minum, nikmat tidur dan sebagainya.

Akhirnya sang Abid menyadarinya, "Benar Ya Allah, aku masuk surga dengan rahmatMu".

Sungguh benar ucapan Nabi saw, bahwa seseorang masuk surga, tidak disebabkan hanya oleh amal-amalnya saja. Sebab itu tidak cukup, amal harus ditambah dengan syarat-syarat lain. Beliau saw memberi wasiat kepada kita, agar selamat masuk surga dengan qaaribuu, taqarrub-lah kalian, dekatkan diri kepada Allah. Di samping saddiduu, berlaku lempang/lurus dalam kehidupan. Jangan kerjakan hal yang bengkok-bengkok yang dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

Taqarrub di bulan Ramadhan ini, sangat banyak sarananya. Seperti sholat wajib tepat waktu, sholat tarawih, sholat malam, sholat-sholat sunnah, berdoa, berdzikir, membaca Al-Quran dan sebagainya.

Sedangkan Ramadhan melatih kehidupan kita agar berlaku sadid, lurus sebagai makhluk ciptaan Allah swt dalam beribadah, ber-muamalah maupun menjalankan amanah sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi ini.

Andai semua pepohonan di belantara hutan dijadikan pena,
Andai semua air yang ada di lautan dijadikan tinta,
Tak akan mampu untuk menuliskan betapa banyaknya
Kalimat kasih sayang Allah swt.



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

PUISI RAMADHAN "SANDARAN"




Kalau kita benar beriman
Allah adalah sandaran
Tempat mengadu dan memohon pertolongan
Tempat menentramkan kekhawatiran akan masa depan
Karena Dia adalah Maha Tahu
Pengetahuannya tidak dibatasi oleh waktu
Tak satu peristiwapun luput dari-Nya
Kekuasaan-Nya adalah jaminan masa depan kita
Sepanjang kita tetap berada di jalan-Nya
Dan tidak membangkang perintah-Nya
Tak ada yang perlu ditakutkan
Tak ada yang perlu disedihkan
Karena Dia-lah penjaga paling perkasa
Dan penjamin yang paling terpercaya



Selasa, 16 Juli 2013

Kasih Sayang


"Allah swt melaknat orang yang menyiksa dan mengurung hewan"- Hadits Nabi saw.

Dikisahkan,seorang ibu yang tengah duduk memangku kedua anaknya yang masih balita. Seseorang kebetulan lewat merasa iba dan memberikan tiga butir kurma padanya. Lalu sang ibu memberikan satu kurma untuk anaknya yang besar, kemudian satu kurma lagi diberikan kepada anak yang kecil. Lalu kurma ketiga akan dimakan oleh si ibu. Namun tiba-tiba putranya yang besar meminta kurma itu, karena kurmanya tadi sudah habis. Si ibupun tidak jadi memakannya dan menyerahkan kurma itu kepada si buah hati.

Rasulullah saw mengetahui kejadian itu, beliau ber kata: "Si Ibu itu masuk syurga, karena memberikan kasih sayang kepada anaknya".

Kasih sayang merupakan sifat dasar manusia, bukankah manusia terlahir diawali dari hubungan kasih sayang antara dua makhluk laki-laki dan perempuan. Namun, bisa saja satu lingkungan buruk kemudian mengubah perilaku seseorang, sehingga ia menjadi kasar, bahkan besifat kejam kepada siapapun juga.

Suatu ketika Rasulullah saw didatangi oleh cucu-cucu beliau Hasan dan Husain yang habis bermain di pasir. Kebetulan seorang Arab Badui bernama Aqra bin Habis, menyaksikan peristiwa itu dan berkomentar, "Saya punya cucu sepuluh orang, tapi saya tidak pernah menciumi mereka".

Mendengar ucapan orang itu Rasulullah saw marah dan berkata:"Aku tidak sanggup menumbuhkan kasih sayang di hatimu, bagaimana jika Allah swt mencabutnya. Siapa yang tidak mengasihi yang di bumi, tidak akan dikasihi oleh yang di langit".

Rasulullah saw dikenal bersifat penyayang kepada makhluk Allah swt, apalagi terhadap keluarga sendiri.

Simaklah bagaimana beliau memanggil istirinya Aisyah dengan sebutan humaira (yang kemerahan), panggilan mesra yang menyenangkan hati sang isteri. Bahkan Rasulullah saw pernah sujud lama sekali, sehingga sahabat mengira sedang turun wahyu. Namun rupanya sang cucu menaiki punggungnya, dan beliau tidak ingin menganggu keinginan cucu tercinta tersebut.

Rasulullah saw pernah menangis saat putranya Ibrahim wafat, sehingga Abdurrahman bin Auf bertanya, mengapa beliau saw menangis. "Ini adalah tangisan kasih sayang wahai Ibn Auf"

Rasul melanjutkan pembicaraannya: "Sungguh mata ini berlinang, hati ini sedih, namun kami tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami sangat sedih berpisah dengan engkau wahai Ibrāhīm.”

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk berkasih sayang sesama orang beriman. Kita rasakan bagaimana perihnya lapar saat menjelang berbuka, namun ingatlah bahwa kaum fakir miskin hampir setiap hari telah merasakannya.Empati ini tentu akan mengetuk sanubari kita untuk saling berbagi.

Hiasilah rumahmu dengan melati
Hidangkan di meja si lapis legit
Kasihilah makhluk yang ada di bumi
Engkau akan dikasihi Yang di Langit


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

||SALAM BLOGGER INDONESIA|| +++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++ Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!! Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan Kesan & Pesan untuk Membangun Blog iNi.::
 

I-YES INDONESIA

Indonesian Youth Educate And Social

ALMAMATERKU

Universitas Muhammadiyah Riau