Rabu, 24 Juli 2013

Lelaki Penduduk Surga



"Masuklah kalian ke dalam Surga, tidak ada ketakutan bagi kalian dan tidak akan ada kesedihan" QS Al-A’raaf: 49.

Saat tengah berlangsung Taklim Rasulullah SAW, selepas shalat Ashar di Masjid Madinah. Tiba-tiba Nabi SAW berkata, "Akan datang seorang lelaki penduduk Surga".

Semua mata sahabat melihat ke pintu masjid. Maka masuklah seorang laki-laki, nampaknya ia baru selesai berwudhu, dia usap air yang membasahi jenggotnya kemudian dipercikkan ke belakang. Lalu laki-laki itu shalat sunnat dua rakaat, kemudian ikut bergabung mendengarkan taklim tersebut.

Esok harinya pada jam yang sama, taklim rutin berjalan kembali. Tiba-tiba Nabi SAW berkata pula, "Akan datang seorang lelaki dari pendduduk Surga".

Semua orangpun menoleh, ternyata dia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah SAW kemarin.

Adalah putra Umar bin Khattab, yang bernama Abdullah, merasa penasaran mendengar ungkapan Nabi SAW tersebut dua hari berturut-turut. Apa rahasia ibadah orang ini?, hingga diberi predikat sebagai "lelaki penduduk Surga".

Selesai shalat Isya, maka Abdullah pun mengikuti laki-laki tersebut dari belakang. Merasa ada orang berjalan di belakangnya, lelaki itupun menoleh, "Ada apa ya Abdullah?", sapa laki-laki itu.

"Bolehkah saya menumpang menginap tiga malam ini, saya sedang kurang enak di rumah," ujar Abdullah.

"Boleh, silakan," ujar laki-laki itu.

Setiap tengah malam menjelang subuh, Abdullah bin Umar bangun, mencoba mengintip ibadah laki-laki ini. Mungkin dia punya kelebihan ibadah dan rajin shalat malam.

Akan tetapi yang dia lihat, hanyalah sebagaimana kebiasaan sahabat secara umum, beribadah menjelang Subuh saja. Selama tiga malam berturut-turut seperti itu.

Merasa sudah cukup, Abdullahpun pamit dan berterima kasih kepada tuan rumah. Namun sebelum pergi Abdullah menyempatkan diri bertanya.

"Aku mendengar Rasulullah saw berkata bahwa engkau adalah lelaki dari penduduk Surga. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata ibadah engkau biasa-biasa saja. Apakah ada sesuatu yang engkau sembunyikan?," tanya Abdullah.

"Iya, seperti yang engkau lihat," ujar lelaki itu.

"Baiklah, kalau begitu saya pamit dan terimakasih atas tumpangan menginapnya," kata Abdullah sambil berlalu.

Setelah agak jauh, tiba-tiba lelaki itu memanggil, "Ya Abdullah, ke sini".
Abdullahpun datang menghampiri, "Ada apa?".

"Kalaupun ada suatu rahasia yang saya lakukan adalah: Setiap malam sebelum tidur saya menghilangkan semua rasa iri terhadap semua saudara-saudara saya dan saya memaafkan mereka," ujar laki-laki itu.

"Baiklah, terimakasih," ucap Abdullah kemudian pergi.

Ternyata dengan membersihkan penyakit hati, berupa iri hati dan menjadi pemaaf sepanjang hidupnya, menyebabkan lelaki itu disebut Nabi SAW sebagai penduduk Surga.

Pemaaf dan tidak hasad, iri hati adalah sikap seorang yang bertaqwa. Nan tengah kita tempa di dalam bulan Ramadhan ini. Insya Allah.

Kalau ingin untaian melati
Boleh petik di dekat saga
Kalau rajin bersihkan hati
Boleh jadi penghuni surga
.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

Semoga Bermanfaat :)


Indahnya Berbuat Baik pada Sesama Umat Manusia


Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia saling berinteraksi dan bekerja sama demi memenuhi kebutuhan hidup, meraih kebahagiaan, membentuk sistem sosial yang harmonis, juga menggapai hidup yang lebih berkualitas.

Di zaman ini, dipastikan tidak ada manusia yang dapat hidup seorang sendiri dalam keterasingan, tanpa terhubung dengan orang lain dan terlibat interaksi bersama. Agar kehidupan bersama ini dapat terbangun dengan harmonis, tentu setiap orang memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama umat manusia. Islam pun mewajibkan setiap umatnya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al,Qur’an, hadis, dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta para sahabat.

Hubungan dengan sesama manusia ini dalam Islam dikenal dengan istilah hablumminannas. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan hablumminannas dengan sebaik-baiknya, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad SAW.
Perbuatan baik kepada manusia yang perintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah sangat banyak, antara lain sebagai berikut :

a. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
b. Mengajarkan atau menyebarkan ilmu.
c. Menyambung silaturahmi.
d. Memberikan nasihat.

e. Mengajak untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
f. Berbuat adil.
g. Mendamaikan pihak-pihak yang bermusuhan atau berseteru.
h. Membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

i. Menjenguk orang sakit.
j. Mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi.
k. Berdagang dengan jujur.
l. Berinfak dan bersedekah.

m. Bersikap dan bertutur yang kata lemah lembut serta santun.
n. Tidak menganggu dan menyakiti hati orang lain.
o. Tidak mengambil hak orang lain.


Itulah beberapa bentuk perbuatan baik kepada sesama yang diperintahkan oleh ajaran agama Islam. Sesungguhnya, berbuat baik pada sesama umat manusia bukan sekadar dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis dan saling mengasihi.

Akan tetapi, perbuatan baik kepada sesama juga bernilai ibadah yang jika dilakukan akan berbalas pahala dan surga. Sebaliknya, jika perbuatan-perbuatan baik kepada sesama umat manusia ditinggalkan, pelakunya akan menuai dosa. Dosa karena telah lalai terhadap perintah Allah, yang berakibat pada timbulnya berbagai masalah dan kerusakan dalam kehidupan sosial. Satu hal yang harus senantiasa kita ingat adalah dalam berbuat baik pada sesama umat manusia, kita tidak boleh pilih kasih.

Kita harus berbuat kebaikan kepada siapa saja, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, atau status sosial. Hal lain yang tidak boleh kita lupakan ketika berbuat baik adalah kita harus tulus dan ikhlas. Melakukannya karena mengharapkan ridho Allah semata.
Ketika kita berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, tetapi tidak ikhlas, misalnya mengharapkan imbalan atau ingin pujian, sejatinya kebaikan tersebut tidak akan ada nilainya di sisi Allah.

Kebaikan tersebut justru dapat dikategorikan sebagai perbuatan riya atau perbuatan merugikan orang lain. Keduanya adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.
Dengan perintah yang sangat jelas untuk berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya.

Justru kita harus berlomba-lomba untuk berbuat baik. Sebab, sesungguhnya setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain akan berbalas kebaikan pula.

Selain berbalas kebaikan, penghormatan, dan kasih sayang dari manusia, perbuatan baik kita juga akan membuahkan kedekatan dan kasih sayang dari Allah SWT. Dan, jika kita mendapatkan kasih sayang Allah, sungguh itulah nikmat yang tiada bandingnya. Dengan kasih sayang Allah tersebut, kita akan mendapatkan kemuliaan hidup, baik di dunia maupun akhirat.

Semoga Bermanfaat :)



Menanam Kebaikan Menuai Cinta


“…tulislah kebaikan.. karena kebaikan adalah cahaya..
bahkan.. tulisanmu bisa menjadi kebaikan abadi.. yang terus menerangi.. meski engkau nanti di perut bumi…”

[Sarwo Widodo Arachnida]

“Tulis 3 nama…” demikian instruksi beliau, Ust Adi Wisnugraha trainer TRUSTCO saat mengisi pelatihan singkat hari itu. Sebuah pelatihan untuk semua pengajar di sebuah yayasan sekolah terpadu di kota Gresik.

“Anggaplah kertas yang antum pegang adalah voucher pulsa gratis Rp. 50.000… tulislah 3 nama orang yang hadir di tempat ini yang menurut antum layak mendapatkannya“ lanjut beliau. “OK… sekarang dalam waktu 5 menit… temukan dan berikan kertas tersebut sesuai dengan nama yang telah antum tulis…” perintah beliau tiba-tiba. Dan berhamburanlah semua yang hadir di majelis itu untuk berburu 3 orang partner kerja yang dituju.

Waktu 5 menit pun telah berlalu. “Sekarang kita temukan siapa yang mendapat voucher terbanyak hari ini”. Subhanallah… wajah itu mengacungkan tangan penuh kertas dengan malu-malu. Wajah yang kami akrabi setiap hari kerja… sosok yang hampir selalu berusaha meringankan beban kami… sosok yang ringan tangan membantu siapa saja yang ia temui… wajah yang kami temui setiap kali pekan pembinaan tarbawi kami. Beliaulah murabbiyah kami. Beliaulah pemenang rekor voucher CINTA terbanyak hari itu.

“Itulah hakikat ihtiram… berbuat kebaikan… ia akan membekas dalam ingatan… ia akan melahirkan balasan kebaikan pula… dan pemenang rekor kita hari ini… selayaknya kita teladani… pasti ada sebab mengapa ia begitu dicintai…” tutup Sang trainer sebelum acara diakhiri.

Islam menekankan akhlaqul mahmudah bagi segenap muslim sebagai salah satu dari dua dimensi nilai yang wajib diwujudkan seorang muslim dalam hidupnya. Dua dimensi nilai itu aqidah atau keimanan yang benar dan akhlaq yang terpuji. Sebab akhlaq yang baik adalah buah dari aqidah yang benar. Keduanya mesti seiring sejalan. Setiap muslim punya kewajiban moral untuk mewujudkan citra baik Islam sebagi agama rahmatan lil alamin dengan berusaha menampakkan akhlaqul mahmudah saat berinteraksi dengan sesama manusia. Idealnya, tutur kata, sikap dan tingkah laku, cara berpakaian, cara bergaul, seorang muslim lebih baik daripada orang lain yang belum mengenal Islam. Begitupun dengan para da’i harus menampakkan akhlaq yang lebih indah dari orang pada umumnya yang menjadi obyek dakwahnya. Agar tidak semakin benar ungkapan yang menyebutkan“Al-Islam mahjubun bil muslimin” artinya bahwa Islam itu terhijab oleh (perilaku) kaum muslimin. Dan terwujudlah sabda Sang Nabi di bawah ini.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia“ (HR .Ahmad dan Baihaqi)

Salah satu wujud akhlaqul mahmudah yang wajib muncul dalam diri seorang muslim adalah ihtiram. Ihtiram artinya saling menghargai atau saling hormat menghormati kepada sesama manusia. Ihtiram menjadi hal yang sangat penting di tengah-tengah pergaulan antar sesama, lebih-lebih dalam tata pegaulan antar sesama muslim. Islam mengatur bagaimana ihtiram dalam pergaulan dengan kedua orang tua, kepada sesama secara umum dan khususnya terhadap tetangga serta tamu yang berkunjung ke rumah.

Ihtiram pada kedua orang tua, Allah memerintahkan.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapak-mu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra : 23 ).

Sedangkan kepada sesama manusia secara umum Allah berfirman.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman : 18 ).

Dalam firman Nya jelas menyebutkan larangan untuk berlaku sombong. Sombong ditandai dengan dua variabel yakni bathrul haq (menolak kebenaran) dan ghantun nas (menghina manusia). Banyak fakta menunjukkan jika kedzaliman dan pelanggaran terhadap hak-hak asasi seseorang besumber pada rasa angkuh, tidak menghormati orang lain. Maka, jika seorang muslim mengabaikan sikap ihtiram terhadap sesama manusia itu bisa berakibat fatal sebagaimana Rasulullah sampaikan dalam sabdanya.

“Barang siapa yang tidak belas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari dari Ibnu Umar ra).

Maka sudah bisa dipastikan kesombongan, angkuh, tidak sayang kepada yang kecil (lemah) dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua (besar), bukan watak orang-orang beriman.

Dan pemenang voucher Cinta saat pelatihan hari itu membuktikan jika kebaikan-kebaikan yang beliau lakukan selama ini pada hampir semua partner kerja tak hilang begitu saja. Akhlaq ihtiram yang beliau amalkan melahirkan cinta. Akhlaq ihtiram yang beliau lakukan menempatkan beliau menjadi sosok yang istimewa di hati setiap orang yang pernah melihat dan merasakan setiap kebaikan beliau. Dan tepatlah strategi sang trainer bagi kami, tak perlu banyak kata dan materi… cukup berikan bukti. Barang siapa yang berlaku penuh cinta… maka ia pun akan menuai cinta… sekalipun tanpa pernah ia meminta. Ketulusan akan berbuah ketulusan. Kebaikan akan berbalas kebaikan. Maka berlombalah… mengukir kebaikan.

“…dan betapa kebaikan itu seperti hujan
dia menetes dan menumbuhkan… namun tidak berhenti.. kebaikan mengalir dari hati ke hati lagi.. menyejukan setiap jiwa.. bahkan hanya dengan mendengarnya.. terus meretas.. melembutkan semua yang dilewatinya.. Lalu… Indah menatap kau melakukannya…”

[ Sarwo Widodo Arachnida]

Wallahu a’lam bish shawab.

Semoga Artikel Ini Bermanfaat :)


Selasa, 23 Juli 2013

4 Langkah Menuju Surga


"Wahai orang-orang yang beriman, ruku, sujud dan beribadahlah kepada Allah, dan perbuatlah kebaikan-kebaikan agar kalian beruntung" QS Al-Hajj : 77

Setelah lelah berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah saw beristirahat di Quba'. Bahkan beliau saw beserta sahabat sempat menidirikan sebuah masjid, walaupun saat itu masih dalam wujud sangat sederhana. Batas-batasnya adalah pohon kurma, dan sebagian atapnya dari pelepah kurma ditambah daun-daun kering. Saat ini, masjid tersebut sudah terlihat cantik dan megah yang kita kenal dengan nama Masjid Quba'.

Lebih sepekan Rasulullah saw berada di Quba', dan di sinilah awal sejarah bermula sholat Jumat pertama. Dulu pada waktu sebelum hijrah, sholat Jumat belum bisa ditunaikan karena masih berada di bawah kekuasaan Quraisy, di kota Makkah.

Usai melaksanakan sholat Jumat, Rasulullah saw berangkat dengan berjalan kaki, memasuki kota Madinah. Beliau diiringi oleh para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor. Sementara unta Nabi saw dilepaskan dan berjalan paling depan.

"Biarkan unta itu berjalan, karena dia dalam bimbingan Allah swt," Ujar Nabi saw.

Lalu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, tahun apakah ini?, bulan apakah ini? dan hari apakah ini?

Lalu beliau saw bersabda: "Ayyuhannas Afsyus salaam, wa'ath'imuth tho'aam, wasiilul arham, washallu billaili wannaasu niyaam, tadkhulul jannata bissalaam" HR. Muslim

Artinya: Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan (kepada fakir miskin), sambungkan tali silaturrahim. Dan sholat malamlah kalian ketika manusia sedang nyenyak tidur. Engkau akan masuk syurga dengan salam (selamat).

Dalam hadits ini, Nabi saw mengungkapkan empat langkah untuk menuju syurga Allah swt:

Pertama, tebarkanlah salam. Ucapan Assalaamu’alaaikum warahmatullahi wabarakatuhu, disunnatkan bagi yang mengucapkannya, dan bagi yang mendengarnya, hukumnya wajib untuk menjawab. Ucapan salam adalah doa terhadap sesama hamba Allah swt, ucapan salam dapat memadamkan api dedam dan permusuhan, bahkan dapat memperkuat tali persaudaraan sesama kita.

Kedua, berilah makan. Sungguh banyak orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan makanan. Ada fakir miskin, anak-anak terlantar atau siapapun yang membutuhkannya. Kalaupun mengundang untuk walimahan atau syukuran, maka disunnahkan juga untuk mengundang orang-orang papa. Jangan sampai ada sebuah keluarga kepalaran, sementara tetangganya tertidur nyenyak lantaran kekenyangan.

Ketiga, menyambungkan silaturrahim. Menyambungkan kasih sayang, menyambungkan tali persaudaraan. Berkunjung, bertatap muka, berbincang-bincang agar suasana masyarakat menjadi damai dan tenteram. Dengan bersilaturrahim banyak pekerjaan-perkerjaan yang sulit bisa diselesaikan. Pesan Nabi saw, bahwa silaturrahim itu memperpanjang umur dan menambah rezeki.

Keempat, sholat malam. Ada saat-saat khusus, dimana doa kita lebih dikabulkan oleh Allah swt. Yaitu bermunajat dan berdoa di malam hari, saat-saat orang lain sedang nyenyak tidur. Kita kenal dengan istilah qiyaamul lail, mendirikan ibadah malam, dengan sholat tahajjud, berdoa dan berdzikir kepada Allah swt. Bahkan pada bulan Ramadhan ini disunnahkan sholat tarawih, membaca Al-Qur’an, istighfar dll.

Dari empat langkah menuju syurga Allah swt, ternyata tiga syaratnya,sangat terkait dengan hablun minannas dan hanya satu poin yang menyebutkan ibadah mahdhohhablun minallah yaitu sholat malam.

Jadi untuk memasuki surga Allah swt, dalam pemahaman hadits ini, maka hubungan kita dengan manusia harus terus diperbaiki. Kualitas hubungan dan interaksi kita dengan manusia seperti mengucapkan salam, memberi makan dan menyambung kasih sayang justru menjadi faktor besar untuk masuk surga.

Siapa suka beternak ayam
Buatlah sangkar pemikat punai
Siapa suka mengucap salam
Membuat hati menjadi damai


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara











Keberkahan dalam Makan Sahur


Di bulan Ramadhan ada amalan sunnah yang bisa dijalani yaitu makan sahur. Amalan ini disepakati oleh para ulama dihukumi sunnah dan bukanlah wajib, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 7: 206. Namun amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah.

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).
Yang dimaksud barokah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu. Barokah bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun patut diketahui bahwa barokah itu datangnya dari Allah yang hanya diperoleh jika seorang hamba mentaati-Nya.

Keberkahan dalam Makan Sahur

  1. Memenuhi perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas. Keutamaan mentaati beliau disebutkan dalam ayat,

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
    Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 80).

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
    Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).

  2. Makan sahur merupakan syi’ar Islam yang membedakan dengana ajaran Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
    Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096). Ini berarti Islam mengajarkan baro’ dari orang kafir, artinya tidak loyal pada mereka. Karena puasa kita saja dibedakan dengan orang kafir.

  3. Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).
  4. Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah dan do’a dari para malaikat-Nya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
    Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

  5. Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
    Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145  dan Muslim no. 758).

  6. Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. Sebagaimana orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat,

    وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
    Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17).

    وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
    Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. ” (QS. Adz Dzariyat: 18).

  7. Orang yang makan sahur dijamin bisa menjawab adzan shalat Shubuh dan juga bisa mendapati shalat Shubuh di waktunya secara berjama’ah. Tentu ini adalah suatu kebaikan.

  8. Makan sahur sendiri bernilai ibadah jika diniatkan untuk semakin kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah.

Intinya, makan sahur punya berbagai keberkahan. Itulah rahasia-rahasia yang mungkin sebagian kita tidak mengetahuinya.

Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.

Referensi Utama:
Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.
Shubuh hari, 1 Ramadhan 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta
Artikel Muslim.Or.Id
===================================================================
Semoga Bermanfaat :)



Kehati-hatian Seorang Abu Bakar


"Wahai manusia makanlah yang ada di muka bumi ini yang halal dan baik. Janganlah ikuti langkah-langkah setan, sungguh dia musuhmu yang nyata" QS Al-Baqarah: 168

Sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat memilih dan mengangkat Abu Bakar Shiddiq sebagai Khalifah. Meskipun dari segi fisik beliau tidak terlalu besar, namun Abu Bakar mempunyai banyak kelebihan, bahkan diberi gelaran As-Shiddiq (jujur dan yakin).

Suatu siang, karena sibuk bekerja sebagai Khalifah, Abu Bakar telat makan siang. Lantas beliau memanggil pembantunya.

"Belikan makanan", ujar Khalifah.

Maka sang pembantu bergegas mencari makanan, lalu kembali dan memberikannya kepada Abu Bakar. Karena memang perut beliau terasa sangat lapar, makanan itu langsung disantap oleh Khalifah. Sekejap, separuh makanan itu sudah habis dimakan.

Akan tetapi, sang pembantu tetap berdiri, memperhatikan Abu Bakar makan. Lantaran heran, Abu Bakar pun bertanya.

"Engkau sudah makan?"

"Sudah tuan," jawab pembantunya.

"Lalu mengapa engkau terus berdiri di situ?" tanya Khalifah.

"Aku heran, biasanya tuan tanya dulu asal makanan itu dari mana. Tapi kini tuan langsung menyantapnya," ujar pembantunya.

"Lah, memangnya engkau dapat makanan ini dari mana?," selidik Abu Bakar.

Lalu sang pembantupun bercerita, di waktu hendak membeli makanan tadi, tiba-tiba ada sebuah keluarga memanggilnya. Rupanya ada anggota keluarga tersebut yang sedang sakit keras. Mereka minta pembantu Abu Bakar ini untuk menjampi (membaca mantra). Karena dulu ia memang mantan tukang jampi (dukun). Namun setelah masuk Islam, dia tidak mau lagi menjampi, karena perbuatan itu diharamkan. Namun karena setengah dipaksa, akhirnya dia jampi sekedarnya. Lalu diberilah upah makanan ini.

"Jadi ini makanan dari hasil engkau menjampi?," tanya Abu Bakar gusar.

"Betul Amirul mu’minin," jawab sang pembantu.

Khalifah Abu Bakar langsung berhenti makan, lalu di masukkannya jari ke tenggorokannya. Sehingga beliau muntah-muntah dan makanan itu keluar kembali dari perutnya. Sampai-sampai beliau mengalami sesak napas. Kebetulan dilihat oleh Abdullah bin Masúd.

"Ya Abu Bakar, tidak usah serepot itu, engkaukan tidak tahu sebelumnya bahwa makanan itu adalah haram, Insya Allah dimaafkan oleh Allah," ujar Ibnu Masúd.

"Tidak, meskipun makanan ini keluar dari perutku, bersamaan dengan lepasnya nyawaku dari tenggorokanku, aku rela. Karena aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Tiap makanan yang tumbuh dari barang yang haram, maka nerakalah tempatnya," tegas Abu Bakar.

Wara’, hati-hati adalah sikap seorang insan yang bertaqwa. Bahwa yang halal itu jelas, dan yang harampun sudah jelas. Diantara keduanya ada mutasyabihah, meragukan. Siapa yang mengambil mutasyabihah itu dia telah menjatuhkan dirinya ke jurang celaka. Siapa yang menghindarkannya, sungguh telah menjaga dirinya dari adzab Allah swt.

Jauhi sarang lebah di bumbungan
Mereka menyerang tanpa ampun
Jauhi barang yang diharamkan
Rezeki tak berkurang sedikitpun
 
Semoga Bermanfaat :)
 
Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara 



||SALAM BLOGGER INDONESIA|| +++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++ Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!! Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan Kesan & Pesan untuk Membangun Blog iNi.::
 

I-YES INDONESIA

Indonesian Youth Educate And Social

ALMAMATERKU

Universitas Muhammadiyah Riau