Selasa, 13 Agustus 2013
Motivasi Islam dalam Mempelajari Iptek
Iptek atau Ilmu Pengetahuan dan Teknolgi, merupakan salah satu hal yang tidak dapat kita lepaskan dalam kehidupan kita. Kita membutuhkan ilmu karena pada dasarnya manusia mempunyai suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT hanya kepada kita, manusia, tidak untuk makhluk yang lain, yaitu sebuah akal pikiran. Dengan akal pikiran tersebutlah, kita selalu akan berinteraksi dengan ilmu. Akal yang baik dan benar, akan terisi dengan ilmu-ilmu yang baik pula. Sedangkan teknologi, dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun, dalam mempelajari dan mengaplikasikan iptek itu sendiri, harus memperhatikan beberapa hal yang penting. Bagaimana sebenarnya cara mempelajari dan mengaplikasikan iptek menurut pandangan islam?
Sains dan teknologi sendiri sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Mereka memiliki peranan penting yaitu membantu meringankan masalah yang dihadapi manusia. Sains dan teknologi saling terkait satu sama lain ( tidak terpisah). Hal ini dapat diperjelas dengan teknologi yang mana ia akan berubah sifatnya jika tidak dibarengi dengan ilmu sains. Sudah menjadi sifat dasar teknologi yang egois dimana ia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari yang lain. Kemajuan Teknologi yang tidak terkendali sering kali berakibat pada pengrusakan lingkungan. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan sains. Kemajuan sains tergantung dari perkembangan alatnya. Sains tidak akan berkembang, jika alat – alat yang digunakan masih monoton. Padahal untuk menciptakan sesuatu, diperlukan alat yang canggih pula agar hasil yang didapat maksimal. Itulah mengapa sains dan teknologi sangat erat hubungannya. Masing – masing dari mereka memiliki fungsi yang berbeda. Fungsi ini jika dipadukan, insyaallah akan menghasilkan penemuan yang luar biasa. Dengan mempelajari dua hal tsb (sains dan teknologi), insya Allah akan tercapai kehidupan yang seimbang/balance.
Tidak semua sains dan teknologi yang diciptakan para ilmuwan itu baik untuk kita. Terkadang ada pula yang menggunakan bahan – bahan berbahaya bagi kesehatan lingkungan sekitar. Beberapa dari mereka ada yang menyalahgunakan hasil penelitian tsb. Sesungguhnya Allah melarang kita membuat pengrusakan di bumi, seperti dalam firman-Nya dalam (Q.S. Al-A’rof : 56).
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang – orang yang berbuat baik.”
Ini sangat berbahaya. Oleh karena itu kita dituntut untuk mempelajari IPTEK agar kita sendiri bisa lebih berhati-hati dalam menggunakan sutu produk. Dengan ilmu itu pula, kita juga bisa ikut berpartisipasi dalam menyelamatkan sains dan teknologi agar tetap berjalan pada jalurnya.
Pendidikan sains dan teknologi seharusnya sudah diberikan dengan mantab saat anak masih kecil. Hal ini dikarenakan, ilmu yang dipelajari tidak jauh – jauh dari apa yang kita temukan setiap harinya. Kita dapat menjelaskan kepada mereka (anak kecil) dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Tidak perlu bertele – tele yang mana bahasa itu hanya bisa dimengerti orang dewasa. Dengan proses pembelajaran yang menyenangkan, insyaallah akan membuat mereka suka pada IPTEK. Dengan begitu, muncullah bibit – bibit baru yang lebih unggul yang akan menggantikan para ilmuwan abad ini. Sesungguhnya IPTEK sendiri adalah suatu ilmu pengetahuan yang menarik dan menyenangkan. Apalagi dalam pembelajarannya terdapat banyak sekali hikmah yang kita temukan didalamnya. Yang mana pada saat kita melakukan penelitian/praktek, kita akan menyadari betapa Maha Besar Dia yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya. Seperti dalam (Q.S. Az-Zuhruf : 9)
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: ”Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
Kita sebagai manusia, tak lepas dari tanggung jawab kita sebagai khalifah dimuka bumi. Dimana kita ditugaskan untuk menjaga bumi dan seluruh isinya agar tetap asri. Ada alasan mengapa Allah menciptakan kita sebagai khalifah dibumi ini?!!, yaitu karena manusia memiliki akal untuk berfikir dan mengenali lingkungannya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Bahkan malaikat pun pernah protes lantaran adam memiliki jabatan sebagai khalifah. Seperti yang dikatakan Allah dalam firman-Nya Q.S. Al-Baqarah : 34
“Dan ingatlah tatkala kami berkata kepada malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlah mereka, kecuali iblis enggan dia dan menyombongkan diri, karena dia adalah dari golongan makhluk yang kafir.”
Dengan surat tersebut menjelaskan bahwa kemampuan berfikir itulah yang membuat manusia dijadikan sebagai khalifah dimuka bumi ini jika dibandingkan dengan malaikat yang kita ketahui sebagai makhluk yang maksum dari dosa. Bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi khalifah tidak hanya bertasbih menyebut asma-Nya tapi juga kemampuannya dalam mengenali lingkungannya dan berfikir. Ini adalah karunia yang besar bagi kita. Seharusnya kita bersyukur dan mampu memanfaatkannya dengan baik.
Allah menyuruh kita untuk memaksimalkan kemampuan akal yang diberikan pada kita. Salah satu cara, Ia menganjurkan pada kita untuk menuntut ilmu setinggi – tingginya demi kemajuan umat bersama. Bahkan pernah dikatakan dalam suatu hadits bahwa ada tiga peninggalan yang mampu menolong manusia untuk terhindar dari api neraka yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak sholeh. Dengan kata lain, Allah hendak mengatakan bahwa ilmu sangatlah penting untuk kita, sebagai umat islam, bukan hanya penting untuk kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat. Ilmu yang bermanfaat itu dapat kita bawa hingga ke akhirat kelak.
Firman Allah dalam QS. Ali Imran : 110, “Kamu adalah umat yang paling baik (khaira ummah, umat pilihan), yang dilahirkan untuk kepentingan manusia; menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat salah, serta beriman kepada Allah. Sekranya orang-orang keturunan Kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka. Sebahagian mereka beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang jahat”.
Dijelaskan bahwa Umat Islam adalah umat pilihan, terbaik. Bila keturunan Kitab sebelumnya mau menerima dinul Islam, mereka akan lebih baik dari umat ini, tetapi mereka kufur, dan sebahagian lagi jahat, menolak ajaran Allah SWT. Di sinilah terdapat tantangan di samping peluang terhadap umat pilihan (umat Islam) sepanjang masa dalam meniti setiap perubahan zaman.
Khaira ummah yang menjadi identitas umat Islam itu selalu istiqamah (Konsisten) dengan perangai utama. Tetap membawa, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, amar makruf. Melarang membuat salah, nahyun ‘anil munkar, dan tetap beriman dengan Allah.
Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Karena itulah tatkala pertama kali manusia diciptakan kepadanya beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35).
Dalam mengemban misi mulia, khalifah di permukaan bumi. Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah wajib dijalankan. Perlu ilmu pengetahuan tentang makruf dan munkar artinya mengerti tentang suruhan berbuat baik dan larangan berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).
Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia. Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) dipagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Bukan like atau dislike (suka atau tidak).
Kerancuan menerapkan benar dan salah dikehidupan sehari-hari disebab kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong. Selain dari kebiasaan meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right danwrong tersebut.
Bila diteliti bahwa ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5. Membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”. Dijelaskan, dengan membaca dan menulis akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah berfungsi sebagai sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.
Adapun keistimewaan ilmu, menurut wahyu Allah, antara lain :
- Yang mengetahui pengertian ayat-ayat mutasyabihat hanyalah Allah dan orang-orang yang dalam ilmunya (QS.2:7)
- Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (QS.3:18)
- Di atas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu (QS.12:76)
- Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu, (QS.16:43, dan 21:7)
- Jangan engkau turuti apa-apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu (QS.17:36)
- Kamu hanya mempunyai ilmu tentang ruh sedikit sekali (QS.17:85)
- Memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114)
- Ilmu mereka (orang yang menolak ajaran agama) tidak sampai tentang akhirat (QS.27:66)
- Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43)
- Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28)
- Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11)
- Tuhan mengajarkan dengan pena (tulis baca) dan mengajarkan kepada manusia ilmu yang belum diketahuinya (QS.96:4-5)
Sebenarnya umat yang menjadi pengamal wahyu Allah (Islam) memiliki identitas (ciri, sibghah) yang jelas di antaranya menguasai ilmu pengetahuan. Dalam mewujudkan keberadaannya ditengah masyarakat mereka menjadi innovator dan memiliki daya saing serta memiliki imajinasi yang kuat disamping kreatif dan memiliki pula inisiatif serta teguh dalam prinsip (istiqamah, consern), bahkan senantiasa berfikir objektif dan mempunyai akal budi.
Teknologi hanyalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. Teknologi tidak berarti bila manusia dibelakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.
Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir manusia yang akan mempergunakan perangkat teknologi, agar hasil yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia. Jangan sebaliknya merusak kehidupan itu sendiri. [sumber]
Semoga Bermanfaat :)
Hakikat Kemerdekaan
Islam sangat menghormati dan memuliakan manusia dengan memberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih, dalam semua aspek kehidupan tanpa terkecuali. Islam mengharamkan pemaksaan seseorang untuk mengikuti ajarannya, meskipun yang disampaikannya adalah kebenaran yang tidak diragukan. Karena pemaksaan merupakan pelanggaran atas kemerdekaan manusia dan kehormatannya, disamping tidak ada gunanya orang mengikuti dengan paksaan.
Ada banyak firman Allah s.w.t. tentang kemerdekaan atau kebebasan seorang manusia dalam menjalani kehidupan ini. Mereka diberikan pilihan sepenuhnya untuk memilih, jalan manakah yang akan mereka tempuh; baik atau buruk, benar atau salah. Di antaranya adalah firman Allah s.w.t. yang artinya: “Bebuatlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan Orang-orang beriman akan melihat perbuatanmu.” (QS. At Taubah [9]: 105). “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (untuk memilihnya). Tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad [90]: 10-11). “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah [2]: 256). Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” (QS. Al Kahfi [18]: 29).
Selain itu, setiap orang dipersilahkan untuk menjalankan syariat agamanya. Kewajiban seorang muslim hanyalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang arif dan bijkasana. Allah s.w.t. berfirman, “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun [109]: 6). Nabi Muhammad s.a.w. bahkan dinasehati Allah s.w.t. untuk tidak memaksa orang kafir beriman, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?.” (QS. Yunus [10]: 99)
Hakikat kemerdekaan dalam Islam adalah terbebasnya manusia dari segala bentuk ketergantungan dan belenggu kepada selain Allah s.w.t. Nilai-nilai seperti ini dalam Islam dikenal dengan istilah kemurnian tauhid.
Ketika hakikat kemerdekaan adalah tauhid, maka untuk menilai sejauh mana seseorang, masyarakat atau suatu negara telah merdeka, harus dilihat dari sejauh mana mereka masih diperbudak oleh aturan, norma, adat istiadat yang bukan dari Allah, tetapi dari bangsa asing, pemimpin diktator, atau oleh hawa nafsu mereka sendiri.
Dalam kerangka inilah Umar bin Khattab mengingatkan gubernurnya di Mesir, Amru bin Ash, ketika puteranya memukul seorang kristen koptik, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka.” Kabarnya, Jean Jacques Rousseau pun mengutip kata-kata ini.
Ali bin Abi Thalib pun berwasiat kepada anaknya dengan wasiat emas, “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Allah telah menjadikanmu merdeka.”
Arti kemerdekaan semacam ini adalah penghambaan hanya kepada Allah. Karena insan muslim tidak menjadi hamba kecuali hanya kepada Allah s.w.t. Ketika manusia mengerti hakikat ini maka ia benar-benar merdeka, karena penghambaannya kepada Allah membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain-Nya.
Tidak ada yang lebih membunuh kemerdekaan daripada menjadikan sebagian manusia sebagai tuhan bagi sebagian yang lain, dalam kondisi seperti ini manusia tidak bisa mengembalikan kemerdekaannya dan kehormatannya, kecuali jika mereka menghancurkan tuhan-tuhan palsu itu, terutama dalam diri orang-orang yang dianggap tuhan, padahal ia adalah manusia seperti mereka, tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya kepada dirinya, tidak juga menghidupkan, mematikan dan membangkitkan.
Kemerdekaan pada hakikatnya, bukanlah semata-mata membebaskan diri dari belenggu penjajahan pihak lain. Tetapi lebih dari itu, kemerdekaan yang hakiki adalah kemampuan untuk membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu.
Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu memerdekakan dirinya dari berbagai penghambaan selain kepada Tuhannya. Seorang pejabat atau pemimpin yang merdeka adalah pejabat/ pemimpin yang mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi pribadi (dan keluarganya), dan hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Dia memandang jabatan itu sebagai amanat yang harus dipertangungjawabkan. Seorang cendekiawan yang merdeka adalah yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat banyak. Ia tidak akan melakukan upaya pembodohan kepada masyarakat, apalagi dengan menggunakan dalil-dalil dan alasan-alasan yang sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.
Seorang penegak hukum (hakim, jaksa, polisi maupun pengacara) yang merdeka adalah orang yang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan hukum yang benar sebagai panglima. Asas keadilan dan obyektivitas akan benar-benar dijunjungnya. Ia tidak akan berani mempermainkan hukum hanya karena iming-iming jabatan atau materi. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Seorang pegawai yang merdeka adalah orang yang berusaha mengoptimalkan potensi dirinya untuk meraih prestasi kerja yang baik dan bermanfaat, dengan landasan keikhlasan. Rakyat dan bangsa yang merdeka adalah rakyat yang kritis dan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan bangsanya. Rakyat yang merdeka tidak mudah diprovokasi oleh unsur-unsur yang tidak bertanggungjawab yang bermaksud menjadikan mereka sebagai obyek perasan dan kuda tunggangan.
Seorang muslim harus berlepas diri dari penghambaan kepada selain Allah. Tidak cukup hanya sekedar ucapan bahwa tidak ada tuhan selain Allah s.w.t. Di sinilah sebenarnya, inti kemerdekaan seorang muslim. Dalam kerangka ini, Ibnu Rajab berkata, “Sesungguhnya hati yang memahami lâ ilâha illallâh, lalu membenarkannya dengan penuh keikhlasan, maka akan tertanam kuat sikap penghambaan hanya kepada Allah dengan penuh penghormatan, rasa takut, cinta, pengharapan, pengagungan dan tawakkal, yang semua itu memenuhi ruang hatinya dan disingkirkannya penghambaan kepada selain Allah dari para makhluk-Nya. Jika semua itu terwujud maka tidak akan ada lagi rasa cinta, keinginan dan permintaan selain apa yang dikehendaki Allah, serta apa yang dicintai-Nya dan dituntut-Nya. Demikian juga akan tersingkir dari hatinya semua keinginan nafsu syahwat dan bisikan-bisikan syaitan, maka siapa yang mencintai sesuatu atau mentaatinya atau mecintai dan membenci karena sesuatu itu maka dia adalah tuhannya, dan siapa yang mencintai dan membenci semata-mata karena Allah, ta’at dan memusuhi karena Allah, maka Allah baginya adalah tuhan yang sebenarnya. Siapa yang mencintai karena hawa nafsunya dan membenci juga karenanya, atau ta’at dan memusuhi karena hawa nafsunya, maka hawa nafsu baginya adalah tuhannya, sebagaimana firman Allah s.w.t, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”, (QS. Al Furqaan [25]: 43)
Sesungguhnya Islam lahir membawa misi kemerdekaan dan kebebasan, serta ingin mengantarkan segenap manusia kembali kepada fitrah mereka yang suci. Misi kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkan oleh Islam merupakan inti dari ideologi yang benar yaitu tahrîrul ‘ibad min ibâdatil ibâd ilâ ibâdati rabbil ibâd (membebaskan manusia dari penghambaan dan ketergantungan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Tuhan sang pencipta). Allah menyebutkan didalam Al-Qur'an, “Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 1-2)
Kemerdekaan yang diinginkan oleh Islam bukan hanya terbatas pada kebebasan dari belenggu fisik semata, tapi lebih dari itu adalah kebebasan dari belenggu dan ketergantungan kepada selain Allah swt dalam berbagai bentuk dan modusnya, seperti:
1. Kebebasan dan pembebasan diri manusia dari belenggu hawa nafsu yang sering kali menjerumuskan seseorang kedalam sifat hewaniah bahkan sifat syaithoniah. Sehingga Allah s.w.t. mengecam sifat ini dalam salah satu firman Nya, QS. Al Furqaan [25]: 43.
2. Pembebasan diri dan bangsa dari belenggu prilaku dan akhlak madzmumah, akhlak yang tercela yang sekarang ini menjadi tontotan dan tuntunan sehari-hari. Betapa informasi dan kenyataan sehari-hari dilapangan ini sangat mengkhawatirkan masa depan generasi bangsa ini yang akan meneruskan estafeta perjuangan para pahlawan yang telah sudi mengorbankan harta, tenaga bahkan jiwa mereka untuk kedamain dan kesejahteraan para penerusnya. Pepatah Arab mengingatkan kepada kita akan pentingnya akhlak dalam membangun dan mempetahankan eksistensi sebuah bangsa “Sesungguhnya jati diri dan eksistrensi sebuah umat sangat ditentukan dan tergantung kepada akhlaknya, jika akhlak mereka rusak maka bangsa itu akan segera menemui kehancuran dan terus menerus berada dalam keterpurukan.”
3. Pembebasan diri dan bangsa dari budaya dan pandangan hidup hedonisme yang mengarah kepada semata-mata memburu kenikmatan duniawi sesaat secara berlebih-lebihan yang akhiranya akan melahirkan budaya persimifisme, yaitu budaya serba boleh. Mereka menuntut diilegalkannya praktek prostitusi, seks bebas, dan praktek kemaksiatan yang lainnya atas nama hak asasi manusia dengan melupakan hak asasi Allah s.w.t. Dalam kondisi semacam ini, biasanya segala aktifitas kebaikan, segala bentuk amar ma’ruf dan nahyi munkar akan dianggap sebagai penyakit, dianggap sebagai hama yang harus segera dibasmi seperti yang dikatakan oleh kaum nabi Luth terhadap nabi mereka. mereka mengatakan dengan budaya dan cara pandang hedonisme mereka, dengan budaya dan cara pandang persimifisme mereka. “Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda'wakan dirinya) bersih.” ( QS. An Naml [27]: 56)
4. Pembebasan diri dan umat dari praktek syirik dalam segala bentuknya, sehingga seperti yang dikhawatirkan oleh Imam Ali karamallahu wajhah tentang kondisi sebuah umat yang tidak ada nilai dan tidak ada harganya dimata Allah dan juga dimata manusia. Imam Ali menyebutkan “Akan datang atas manusia suatu zaman semangat mereka hanya berada disekitar perut mereka, kemuliaan mereka sangat tergantung kepada benda-benda fisik semata, jidat mereka ada pada perempuan-perempuan, agama mereka ada pada urusan dinar dan dirham. Mereka itulah orang-orang yang paling jahat dan tidak ada nilainya disisi Allah s.w.t.” Inilah yang dikhawatirklan oleh Imam Ali, manakala nilai dan semangat kemerdekaan ini tidak diisi dengan rasa syukur yang mendalam untuk memberdayakan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki demi mengharapkan ridha Allah s.w.t.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Celakalah budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha, dan bila tidak diberi dia murka.” (HR. Al-Bukhari no. 2887 dari Abu Hurairah r.a.). Kata “budak” pada hadis ini telah dipakai oleh Rasulullah s.a.w. untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia. Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan dalam Fathul Barinya, “Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. Bila memperolehnya, dia menjaganya seolah-olah dia sebagai pelayan atau budak.” (Fathul Bari, 18/249).
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullahu berkata, “Dunia adalah araknya setan. Barangsiapa mabuk karenanya, maka dia tidak akan sadar sampai kematian menjemputnya dalam keadaan menyesal di tengah orang-orang yang merugi. Sedangkan bentuk cinta dunia yang paling ringan adalah lalai dari cinta dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang harta bendanya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah s.w.t, sungguh dia termasuk orang yang merugi. Bila hati lalai dari berdzikir kepada Allah s.w.t, niscaya hati itu akan ditempati oleh setan, yang kemudian akan memalingkannya sesuai kehendak-Nya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tiadalah setiap orang di dunia ini melainkan sebagai tamu dan hartanya adalah pinjaman. Tentunya, tamu itu akan berangkat pergi dan pinjaman itu akan kembali kepada pemiliknya.” Rasulullah s.a.w. bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (اُصول الكافي، ج2، ص239، باب حبّ الدنيا والحرص عليها)
“Cinta dunia adalah pongkol segala kesalahan.” (Ushul al-Kafi, jilid 2 hal. 239)
Jadi, kemerdekaan bukan hanya sebuah makna keterbebasan dari belenggu penjajahan. Melainkan lebih dari itu keterbebasan dari belenggu nafsu dan cinta dunia. Bila makna ini benar-benar tercermin dalam pribadi sebuah bangsa, maka hakikat kemerdekaan akan benar-benar tercapai. Mengapa? Bisa dipastikan bahwa dengan terbebasnya dari belenggu nafsu dan cinta dunia keadilan akan tegak dengan jujur. Tegaknya keadilan akan melahirkan keamanan. Keamaman akan membuat semua kehidupan menjadi produktif dan sejahtera.
Itulah mengapa Al Qur’an dari awal sampai akhir selalu menekankan pentingnya manusia bersungguh-sungguh mentaati Allah s.w.t. dan melawan nafsu. Sebab hanya dengan mentaati Allah s.w.t. ia akan benar-benar merdeka. [sumber]
“Bangsa Yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”
-Ir. Soekarno-
Senin, 12 Agustus 2013
Long Life Education
Long life education atau pendidikan sepanjang hayat biasa diasumsikan sebagai pendidikan yang terus menerus hingga seseorang mendapatkan gelar yang banyak di belakang namanya. Dari Sarjana sampai Profesor bahkan dari berbagai bidang ilmu. Yang demikian ini mungkin benar menunjukkan pendidikan sepanjang hayat. Tapi tentunya tidak semua orang bisa mencapainya.
Dalam pengertian lebih luas, long life education tidak menuntut adanya lembaga pendidikan. Rasulullah pun memerintahkan umatnya untuk menimba ilmu sampai akhir hayat. Sehingga mencari ilmu tidaklah harus dari bangku pendidikan saja. Keluarga dan masyarakat adalah sarana pendidikan yang paling mendasar. Dalam keluarga, disadari atau tidak, orang tua secara perlahan menanamkan dasar-dasar kepribadian anak. Semua pengalaman interaksi anak dengan orang tuanya direkam dalam otak kecil anak yang akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa. Bila orang tua memperlakukan anak secara positif, maka anak akan memiliki kepribadian yang positif juga. Sebaliknya, bila perlakuan orang tua negatif, maka anak akan sulit menemukan jati dirinya dan memiliki citra diri yang negatif pula. Memasuki lingkungan masyarakat, seorang anak akan mulai mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Setelah dewasa, seorang manusia akan melakukan interaksi yang lebih luas dalam masyarakat. Maka semakin banyak hal yang dipelajari yang dapat mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang orang tersebut. Setiap peristiwa dan kejadian yang dialami adalah sumber belajar bagi orang-orang yang mampu dan mau mengambil pelajaran.
Kesimpulannya, marilah kita jadikan setiap pengalaman menjadi sebuah pelajaran positif yang membuat kita beranjak dan meningkatkan kualitas diri kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sungguh rugi orang yang melewati banyak hal tanpa mengambil pelajaran darinya. Peristiwa apapun, baik atau buruk, menyenangkan atau menyakitkan, pasti ada hikmah dibaliknya. Tak kan pernah ada alasan bagi kita untuk berhenti mensyukuri semua anugerah Allah yang begitu besar ini yang bahkan kadang kita tak menyadarinya. Alhamdulillah.
Mengenai keberlangsungan proses pendidikan, al-Ghazali menerangkan bahwa batas awal berlangsungnya pendidikan adalah sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Adapun mengenai batas akhir pendidikan adalah tidak ada karena selama hayatnya manusia dituntut untuk melibatkan diri dalam pendidikan sehingga menjadi insan kamil. Ditambahkan pula bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai satu-satunya jalan untuk menyebarluaskan keutamaan, mengangkat harkat dan martabat manusia, dan menanamkan nilai kemanusiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada sejauhmana keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Selain itu, pengajaran dan pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan perkembangan psikis dan fisik anak.
Dari berbagai hadist yang dikutip oleh al-Ghazali dalam bukunya dan juga beberapa pernyataannya tentang pendidikan dan pengajaran, dapat dirumuskan sebuah pengertian tentang pendidikan oleh al-Ghazali yaitu “proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna”.
Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna. Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral. [sumber: http://randhard.wordpress.com]
Belajar tidak mengenal waktu selama kita masih hidup maka wajib bagi kita untuk tetap selalu belajar.Semangat!!!.
Minggu, 11 Agustus 2013
Inilah Jawaban Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Seperti dikemukakan sebelumnya, ucapan yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya di hari raya Idul Fitri adalah “taqabbalallaahu minna wa minkum” yang artinya “semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian.”
Lalu, bagaimana menjawab doa itu jika ada yang mengucapkannya kepada kita? Berikut ini tiga hadits yang menunjukkan jawabannya:
1. Dari Adham, maula Umar bin Abdul Aziz; beliau mengatakan, “Ketika hari raya, kami menyampaikan ucapan kepada Umar bin Abdul Aziz, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum, wahai Amirul Mukminin.’ Maka beliau pun menjawab dengan ucapan yang sama dan beliau tidak mengingkarinya.” (HR. Al-Baihaqi)
2. Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan –shahabat– Watsilah radhiallahu ‘anhu ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” kemudian beliau (Watsilah) menjawab, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Mu’jam Al-Kabir)
3. Dari Syu’bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan, “Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’ Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang sama.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ad-Du’a)
Jadi, menurut tiga riwayat di atas, jawaban “taqabbalallaahu minna wa minkum” adalah doa yang sama: “taqabbalallaahu minna wa minkum”. Sebagaimana pesan dalam QS. An Nisa ayat 86: “Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal.” Wallahu a’lam bish shawab.
1. Dari Adham, maula Umar bin Abdul Aziz; beliau mengatakan, “Ketika hari raya, kami menyampaikan ucapan kepada Umar bin Abdul Aziz, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum, wahai Amirul Mukminin.’ Maka beliau pun menjawab dengan ucapan yang sama dan beliau tidak mengingkarinya.” (HR. Al-Baihaqi)
2. Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan –shahabat– Watsilah radhiallahu ‘anhu ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” kemudian beliau (Watsilah) menjawab, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Mu’jam Al-Kabir)
3. Dari Syu’bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan, “Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’ Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang sama.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ad-Du’a)
Jadi, menurut tiga riwayat di atas, jawaban “taqabbalallaahu minna wa minkum” adalah doa yang sama: “taqabbalallaahu minna wa minkum”. Sebagaimana pesan dalam QS. An Nisa ayat 86: “Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal.” Wallahu a’lam bish shawab.
[Sumber: KonsultasiSyariah]
Semoga Bermanfaat :)
Sabtu, 10 Agustus 2013
Hikmah Keutamaan Silaturahmi
Menyambung silaturahmi adalah merupakan akhlak Islami yang mempunyai banyak keberkahan dan kemuliaan. Dan diantara hikmah silaturahmi adalah memberikan banyak kebaikan baik itu untuk kebaikan duniawi terlebih untuk kebaikan akherat setiap muslim di dunia ini. Untuk itulah pentingnya kita mengenal akan beberapa keutamaan dan hikmah silaturahmi dalam islam itu sendiri.
Pengertian silaturahmi adalah merupakan sebuah ungkapan yang menggambarkan tentang perbuatan baik, kasih sayang dan kelembutan yang ditujukan kepada keluarga yang senasab (satu keturunan) dan karib kerabat, serta perhatian terhadap kondisi mereka, sekalipun mereka berada di tempat yang jauh dan berbuat tidak baik kepada kita. Inilah yang dimaksud dengan definisi silaturahim berdasarkan Lisanul ‘Arob 11/728.
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh agama kita Islam yang tercinta ini. Dan juga diingatkan untuk tidak memutus silaturahmi tersebut. Allah Ta'ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam beberapa ayat dalam Kitab Suci Al-Qur'an.
Dalil Al-Qur'an mengenai pentingnya dan manfaat menyambung tali silaturahmi itu adalah sebagai berikut :
Sedangkan dalil hadist berkenaan dengan keutamaan silaturahmi adalah Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh agama kita Islam yang tercinta ini. Dan juga diingatkan untuk tidak memutus silaturahmi tersebut. Allah Ta'ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam beberapa ayat dalam Kitab Suci Al-Qur'an.
Dalil Al-Qur'an mengenai pentingnya dan manfaat menyambung tali silaturahmi itu adalah sebagai berikut :
" Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS An Nisaa’ 4:1).
Sedangkan dalil hadist berkenaan dengan keutamaan silaturahmi adalah Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
"Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).Manfaat keutamaan dan pahala bersilaturahmi adalah :
- Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya menceritakan akan salah satu dari sekian banyak keutamaan silaturahmi bagi seorang mukmin dan muslim yaitu :"Dari Abu Hurairah ra beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).
- Sesungguhnya pahala menyambung silaturahmi lebih besar daripada ganjaran dan pahala memerdekakan seorang budak. Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu 'anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi SAW sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: "Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: "Apakah sudah engkau lakukan?" Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu." (HR Bukhari Muslim).
- Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW yang artinya :"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi." (Mutafaqun ‘alaihi).
- Mendapatkan Rahmat Dan kebaikan Dari Allah Ta'ala.
~MARI KITA ERATKAN TALI SILATURRAHMI~
Langganan:
Postingan (Atom)
+++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++
Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!!
Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan untuk Membangun Blog iNi.::






