Selasa, 25 Juni 2013

Dalam Islam, Usia Berapakah Boleh Menikah?


Menikah di usia muda saat ini dianggap aneh. Bahkan, kadang menjadi sorotan. Padahal, menikah di usia muda atau pernikahan dini memiliki banyak maslahat bagi pemuda. Terlebih, pada era informasi dan globalisasi sekarang ini yang godaan menjaga kehormatan dan kesucian jauh lebih sulit daripada era-era sebelumnya.

Menikah di usia muda, seperti sabda Nabi, membuat pemuda lebih mudah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Beliau bersabda: 


يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits di atas, Rasulullah menggunakan istilah syabab yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pemuda. Siapakah yang dimaksud syabab dalam hadits tersebut? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun.

Masa aqil baligh ini umumnya telah dialami pada rentang usia sekitar 14-17 tahun. Salah satu tanda yang menjadi patokan aqil baligh adalah datangnya ihtilam (mimpi basah). Akan tetapi, pada masa sekarang, datangnya ihtilam sering tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran. Sehingga generasi yang lahir pada zaman ini banyak yang telah memiliki kematangan seksual tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir.

Jika seorang laki-laki telah mencapai aqil-baligh dan memiliki ba’ah, mampu menunaikan kewajiban baik batin maupun lahir (materi), ia dianjurkan oleh Rasulullah untuk segera menikah. Jadi secara fisik ia telah mengalami kematangan seksual, dari segi akal ia telah mencapai kematangan berpikir (ditandai dengan sifat rasyid dasar yang mampu mengambil pertimbangan sehat dalam memutuskan sesuatu dan bertanggungjawab), dan dari segi maliyah ia bisa mencari nafkah, ia disunnahkan untuk segera menikah meskipun usianya masih 20-an tahun.

Bagaimana dengan pemudi (wanita)? Untuk para gadis, syaratnya bahkan lebih mudah. Sebab, ia tidak seperti laki-laki yang dibebani kewajiban mencari nafkah. Sehingga, asalkan ia sudah aqil baligh (ditandai dengan menstruasi) dan memiliki kematangan berpikir, ia boleh dan dianjurkan untuk menikah. Tentu saja –bagi keduanya, pemuda maupun pemudi- bekal agama yang sekaligus membuatnya dewasa dalam mengarungi bahtera rumah tangga perlu untuk dimiliki.

Karena itulah kita mendapati di dalam sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah, para shahabat dan para shahabiyah telah menikah di usia mereka yang masih sangat muda. Fatimah Az Zahra menikah pada usia 19 tahun, sedangkan Ali bin Abu Thalib saat itu berusia 25 tahun. Rasulullah sendiri juga menikah di usia 25 tahun.

Jika Ali dan Fatimah menikah pada saat keduanya di usia muda, pernikahan dalam Islam tidak selalu seperti itu. Rasulullah yang menikah pada usia 25 tahun, saat itu istri beliau Khadijah telah berusia 40 tahun.

Yang terkenal menikah di usia paling muda adalah ummul mukminin Aisyah. Menurut sebagian riwayat, beliau dinikahi Nabi pada usia 7 tahun kemudian mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi ada data berbeda yang menyebutkan bahwa beliau dinikahi oleh Rasulullah pada usia 14 tahun. Wallahu a’lam bish shawab.

Seperti Rasulullah dan Aisyah yang usianya terpaut jauh, Utsman bin Affan juga pernah menikah dengan gadis belia. Saat rambut Utsman telah memutih, beliau menikah dengan Nailah yang masih berusia 18 tahun. Namun begitulah, Islam menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga tanpa peduli usia. Menikah dengan sesama usia muda mengandung banyak berkah. Namun, menikah saat muda dengan pasangan yang jauh lebih dewasa juga terbukti tidak bermasalah. Dari niat, segalanya dimulai. Dan dari niat, Allah menilai.

SEMOGA BERMANFAAT :)


Selasa, 18 Juni 2013

Kisah Cinta Rasulullah dan Khadijah



Sahabat sekalian, taukah kalian arti cinta sejati ? Apakah sahabat pernah mendengar atau mengetahui kisah cinta Qais dan Laila atau kisah cinta Romeo dan Juliet ataukah Laila dan Majnun ?

Apakah kisah cinta seperti itu yang dikatakan sebagai kisah cinta sejati ? Seperti yang sahabat ketahui bahwa kisah cinta mereka tidaklah berakhir di pelaminan bahkan rela mati demi cintanya.

Lalu, cinta seperti apakah yang dikatakan sebagai cinta sejati. Cinta sejati antara dua insan adalah cinta yang terus abadi dalam setelah pernikahan yang berlandaskan atas kecintaan mereka kepada Sang Pemilik Cinta yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla. Walaupun salah satu meninggal, namun cinta sejati ini terus saja abadi. Kisah cinta siapakah yang begitu indah ini ?
Kisah cinta yang paling indah ini siapa lagi yang memilikinya kalau bukan kisah cinta Junjungan kita, Muhammad Saw kepada Khadijah ra.

Sungguh sebuah cinta yang mengaggumkan, cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah ? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Pada masa penaklukan kota Makkah, orang-orang berkumpul di sekeliling Beliau, sementara orang-orang Quraisy mendatangi Beliau dengan harapan Beliau mau memaafkan mereka, tiba-tiba Beliau melihat seorang wanita tua yang datang dari jauh. Beliau langsung meninggalkan kerumunan orang ini. Berdiri dan bercakap-cakap dengan wanita itu. Beliau kemudian melepaskan jubah Beliau dan menghamparkannya ke tanah. Beliau duduk dengan wanita tua itu.

Bunda Aisyah bertanya, “Siapa wanita yang diberi kesempatan, waktu, berbicara, dan mendapat perhatian penuh Nabi Saw ini?”
Nabi menjawab, “Wanita ini adalah teman Khadijah.”
“Kalian sedang membicarakan apa, ya Rasulullah?” tanya Aisyah
“Kami baru saja membicarakan hari-hari bersama Khadijah.”
Mendengar jawaban Beliau ini, Aisyah pun merasa cemburu. “Apakah engkau masih mengingat wanita tua ini (Khadijah), padahal ia telah tertimbun tanah dan Allah telah memberikan ganti untukmu yang lebih baik darinya?”

“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan wanita yang lebih baik darinya. Ia mau menolongku di saat orang-orang mengusirku. Ia mau mempercayaiku di saat orang-orang mendustakanku.”

Aisyah merasa bahwa Rasulullah Saw marah. “Maafkan aku, ya Rasulullah.”
“Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memaafkanmu.” (Hadits ini diriwayatkan Bukhari dari Ummul Mukminin Aisyah)

Sahabatku, apakah mungkin ada cinta seperti itu, yang dapat terus abadi setelah orang yang dicintai meninggal 14 tahun yang telah lewat ? Yupz,  ketaatan kepada Allah menjadi dasar dalam rumah tangga ini. Rumah tangga yang selalu dihiasi dengan dzikir kepada Allah, bukan rumah yang digunakan untuk mengingat setan.

Bagaimana pendapat kalian, sahabat muda sekalian, apakah kalian tidak ingin menjadikan rumah tangga kalian seperti ini ?. Suami membaca Al-Qur’an bersama istrinya. Betapa agungnya ketika anak-anak mereka turut serta membaca Al-Qur’an.

Menjelang waktu Shubuh tiba, si istri membangunkan suaminya untuk melaksanakan shalat Shubuh. Suami melaksanakan shalat Qiyaam al-lail 2 rakaat bersama istrinya. Seperti apa rumah ini ? Indah nian bukan ? betapa manisnya, betapa indah cinta di dalam rumah tangga ini.
Cobalah, pasti kalian dapat menemukan segalanya berubah, cinta pun bertambah, dan Allah melimpahkan berkah-Nya kepada kalian.

“Menikah jauh lebih baik daripada pacaran”

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya

SUMBER

You Can Do it!


Saya tidak yakin atas apa yang saya lakukan hari ini, apakah itu bisa membuat orang lain bahagia ataupun tidak?
saya selalu berusaha untuk mengingat Allah dimanapun saya berada. dikondisi apapun saya berada. disaat seperti apapun saya berada.
Saya tak peduli, dengan pembicaraan orang-orang baik atau buruknya saya. yang penting saya melakukan ini dengan hasil kerja keras saya.

Ketika kita ingin sekali menggapai sebuah impian, pastinya kita selalu mempunyai niat yang pertama. kita lalu terus berdo’a dan tak lupa kita terkadang merelakan waktu hanya demi impian tersebut. tetapi, janganlah kita terlalu berharap untuk bisa menggapainya, karena jika impian itu tidak kita gapai, mungkin saja hati ini retak dan sangat kecewa. kita akan terganggu sekali untuk beribadah kepada Allah, berbicara dengan kedua orangtua, teman, sahabat ataupun lebih. kita harus fokus akan apa yang kita lakukan. teruslah berkata dalam hati anda “bahwa saya sudah melakukan yang terbaik. saya tak peduli hasilnya bagaimana, yang saya fikirkan hanyalah. semoga ini bisa membahagiakan diri saya dan orang lain!” ya, kita harus berkata seperti itu, tetap optimis dan tak boleh pesimis.

Masa depan itu nomor satu, masuk surga itu impian semua manusia. hari ini adalah hari yang harus kau syukuri, karena kau diberi sebuah kesehatan oleh Allah, apakah esok hari kita bisa seperti hari ini? apakah kita bisa menyapa teman dan sahabat kita? apakah bisa mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang? apakah yang paling utama, bisa mencium tangan kedua orangtuamu? ataukah kau masih bisa membuka matamu? yaa, kita memang tidak tau ada apa dengan hari esok:/ yang jelas kita harus selalu bersyukur, tak boleh menyerah, dan tetap tawakal dan berdo’a kepada Allah.

Semoga Artikel Ini Bermanfaat Bagi Sahabat :)




Rabu, 12 Juni 2013

Kematian yang Khusnul Khatimah



Bismillahirrahmanirrahim...

Husnul khatimah ,kematian yang husnul khatimah artinya berakhirnya perjalanan kehidupan manusia di dunia dengan kesudahan yang baik, dan sebaliknya su’ul khatimah yaitu berakhirnya kehidupan manusia dengan akhir yang buruk. Oleh itu, manusia hendaklah selalu berusaha mendapatkan husnul khatimah.

firman Allah SWT berikut ini: ”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh…..” (QS. An Nissa {4]: 78)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran [3] : 185)

Berikut tanda husnul khatimah :
  1. Orang yang selalu berzikir, mengingat Allah dalam segala keadaan, akan menjadi orang yang tenang, sesuai dengan firman-Nya: ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS Ar Ra’d [13] : 28) dan bagi hamba yang berjiwa tenang (karena senantiasa berzikir mengingat Allah) maka perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al Fajr [89] : 27-28)
  2. Dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)
  3. Dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Tarmidzi)
  4. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi SAW bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi SAW bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau SAW bersabda:
    “Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya surga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim).
tanda lain dari husnul khatimah adalah mati di saat menjalankan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya

wallahualam bishawab

semoga tulisan ringkas ini bisa mengingatkan kita akan kematian yang Khusnul Khotimah..

Amin Ya Robbal Alamiin

Hanya Tuhan Yang Tahu






Kupendamkan perasaan ini
Kurahsiakan rasa hati ini
Melindungkan kasih yang berputik
Tersembunyi di dasar hati

Kupohonkan petunjuk Illahi
Hadirkanlah insan yang sejati
Menemani kesepian ini
Mendamaikan sekeping hati

Oh Tuhanku berikanlah ketenangan abadi
Untukku menghadapi resahnya hati ini
Mendambakan kasih insan yang kusayang

Di hati ini hanya Tuhan yang tahu
Di hati ini aku rindu padamu
Tulus sanubari menantikan hadirmu
Hanyalah kau gadis pilihanku

Kerana batasan waktu
Adat dan syariat
Menguji kekuatan keteguhan iman
Insan yang berkasih


Lirik Hanya Tuhan Yang Tahu - Unic




||SALAM BLOGGER INDONESIA|| +++>Di sini Tempatnya Belajar & Berbagi ILMU<+++ Buat Sobat-Sobat Blogger semua,Teruslah Berkarya!!! Terima Kasih Buat Sahabat-Sahabat yang telah Mampir DiBlog Nadym::.Dan Jangan Lupa Tinggalkan Kesan & Pesan untuk Membangun Blog iNi.::
 

I-YES INDONESIA

Indonesian Youth Educate And Social

ALMAMATERKU

Universitas Muhammadiyah Riau